Visits:
  Artikel
Buta Energi


Thursday 14 Feb 2008 3:51pm
  Apakah Buta Energi itu?
Ini bisa dijelaskan sebagai berikut: bayangkan seseorang yang tingginya 3 meter, dan beratnya 40kg. Dalam benak Anda, tentu mudah terbayang seperti apa bentuk tubuh orang itu, bukan? Ini artinya Anda tidak buta Jarak atau Buta Berat!

Kalau saya katakan pagi ini saya sarapan 5kJ (kiloJoule) makanan, pasti Anda terbingung-bingung dengan pernyataan itu. Anda mungkin tidak mempunyai gambaran apakah jumlah tersebut banyak atau sedikit. Sama saja kalau saya ceritakan mobil saya sangat efisien energi karena hanya mengkonsumsi 5MJ (MegaJoule) per km. Lagi-lagi Anda tidak mempunyai indikasi apakah itu benar-benar efisien atau bahkan sangat boros. Anda tidak bisa menentukan apakah jumlah energi ini sedikit atau banyak karena kita tidak pernah berbicara mengenai kinerja energi mobil itu dalam Joule per km. Fakta bila orang tidak mempunyai gambaran apakah sejumlah energi itu sedikit atau banyak, itulah yang disebut Buta Energi.

Sebenarnya banyak orang dalam bidang energi pun mengalami Buta Energi karena mereka tidak pernah melihat di luar lingkup bidang industrinya. Pengusaha Minyak bicara dalam barel, Pengusaha kelistrikan dalam Watt, Megawatt dan GigaWatt, sedangkan pengusaha batubara bicara dalam metrik ton, pengusaha gas dalam meter kubik atau cubic feet, pengusaha energi alternatif bicara dalam Mtoe, pengusaha energi surya bicara dalam Wattpeak, pengusaha baterai bicara dalam Ampere-hour, pengusaha energi angin juga bicara dalam Watt walaupun seharusnya wind-watt-peak supaya seragam dengan pengusaha energi surya, ...dan daftarnya makin panjang.

Pantas aja masyarakat terjadi Buta Energi, karena satuan energi yang benar tidak pernah dipakai!

Tidak heran kita sampai pada krisis energi yang parah dan mendunia, sambil terus menerus membakar habis apa saja yang kita temukan, bahkan khusus menanam tumbuhan untuk menghasilkan bahan hanya untuk dibakar nanti... inilah yang terjadi kalau para pakar yang buta energi menasehati para politikus yang buta energi untuk menyuruh rakyat yang juga buta energi melakukan hal-hal yang memperparah krisis energi.

Kini waktunya kita mengatasi masalah krisis energi!
Langkah pertama untuk memberantas Buta Energi adalah menetapkan sebuah standar.
Itu seharusnya jelas sekali! Mengapa kita Sadar Jarak dan Sadar Berat adalah karena kita selalu mengukurnya dengan satuan standar yang sama, tidak peduli apakah mengukur panjangnya sebuah pintu, meja atau ruangan, ataupun berat sekarung beras, sebuah semangka atau sebungkus parsel. Jadi untuk memberantas Buta Energi, kita harus mulai menggunakan satuan standar yang sama untuk pengukuran semua jenis energi.

Satuan yang paling tepat untuk pengukuran energi adalah Joule, karena alasan sebagai berikut:
1) Joule sudah diakui sebagai satuan standar untuk pengukuran energi dalam sistem metrik.
2) Joule sudah luas dipakai di seluruh dunia dalam dunia kelistrikan (mungkin Anda belum pernah mendengarnya, karena selama ini Joule ditutupi oleh Watt. Definisi Watt adalah Joule per detik). Kebanyakan insinyur listrik tidak mengetahui itu sebab mereka hanya tahu sebatas definisi Watt = Arus x Tegangan... jadi, bahkan insinyur listrik pun masih buta energi...

Watt menipu konsumen yang suka memperhatikan energi...

Kalau Anda sangat mementingkan energi, dan mempunyai pilihan antara 2 jenis lemari es yang serupa tapi berbeda Wattnya, yang manakah yang Anda akan pilih, bila misalnya lemari es 1 menggunakan kompresor 70 Watt dan lemari es 2 sebuah kompresor 100 Watt?

Kebanyakan orang tanpa pikir panjang akan memilih yang 70 Watt, karena dikira mengkonsumsi energi lebih sedikit.

Disitulah Anda tertipu. Watt hanya memberi keterangan berapa Joule energi yang dikonsumsinya per detik, sedangkan kebanyakan alat rumah tangga menggunakan listrik dengan pola beban yang berubah-ubah sepanjang hari. Informasi mengenai satu detik tidak cukup untuk menentukan apakah alat itu efisien energi atau tidak.

Apa yang lebih penting adalah mengetahui berapa konsumsinya dalam skala Joule per jam atau per hari, atau bahkan per tahun.

Kita asumsikan lemari es 70W mempunyai kompresor yang menyala 3.000 detik per jam, berarti lemari es itu mengkonsumsi 70 x 3000 x 24 = 5.040.000 Joule per hari ( = 5 MJ per hari). Nah, bisa saja lemari es 100W menggunakan sebuah kompresor yang lebih efisien, dimana ia hanya menyala selama 1.000 detik per jam, berarti lemari es ini hanya mengkonsumsi 100 x 1000 x 24 = 2.400.000 Joule per hari ( = 2,4 MJ per hari).

Anda bisa lihat Wattnya alat listrik itu tidak mengatakan banyak mengenai berapa energi yang dikonsumsi, dalam contoh tadi lemari es 100W ternyata bisa mengkonsumsi hanya sekitar setengahnya energi yang dikonsumsi lemari es 70W. Ini berarti Anda bisa tertipu besar sebagai konsumen yang mementingkan energi, bila hanya fokus ke angka Watt yang rendah.

Apa yang wajib tertera di semua peralatan yang mengkonsumsi energi adalah berapa kJ atau MJ ia mengkonsumsi tiap jam, hari atau tahun, atau satuan skala hasil lainnya. Lampu dan TV biasanya dipakai dalam basis per jam, jadi perlu dilabel dalam MJ atau kJ per jam. Lemari es umumnya terus-menerus dipakai per hari atau per bulan, jadi sebaiknya dilabel berapa MJ dikonsumsinya per hari atau per bulan.

Bahkan sebenarnya Watt harus samasekali dihapus sebab informasinya mengaburkan fakta yang sebenarnya, dan tidak penting diketahui untuk mengoperasikan alat tersebut.

Yang perlu kita tahu adalah Energi dan Arus listrik untuk menentukan apakah instalasi kabel listrik kita dapat menanggung beban arus listrik yang dibutuhkannya. Angka Watt sama sekali tidak relevan; dan sepertinya hanya diciptakan 100 tahun lalu untuk membingungkan penguna energi listrik agar tidak bisa hitung konsumsi energi sendiri dan terpaksa selalu percaya penuh kepada perusahaan yang jualan energi listrik.

(Maurice Adema)

 
 

 
   
Ada 45 komentar mengenai artikel ini
 
 
 
 

Komentar 1 Oleh: Taufik

Tuesday 18 Mar 2008 12:23pm

Suatu pencerahaan yang sangat bermanfaat, ada baiknya contoh contoh tsb diteruskan dengan nilai ekonomis ( Pembayaran rekening ) khususnya yang berhubungan dengan KWH meternya PLN

Salam
 
 
 

Komentar 2 Oleh: Maurice Adema

Tuesday 18 Mar 2008 1:10pm

Nilai ekonomis akan terlihat dengan dua kondisi sbb:

1) Harga harga energi sudah mulai dicantumkan dalam jumlah Rp per MJ

2) Konsumsi alat-alat listrik di cantumkan dalam MJ per jam, hari, bulan atau tahun.

Misalnya kalau sebuah toko electronic pamerkan 3 buah kulkas sbb:

Kulkas 1 > 6.0 MJ/hari
Kulkas 2 > 2.5 MJ/hari
Kulkas 3 > 1.5 MJ/hari

Dan anda mengetahui 1 MJ harganya Rp 200

Langsung and bisa hitung onkos energi per hari dari kulkas tsb:

Kulkas 1 > 6.0 x 200 = Rp 1.200/hari
Kulkas 2 > 2.5 x 200 = Rp 500/hari
Kulkas 3 > 1.5 x 200 = Rp 300/hari

Dengan transparansi seperti itu automatis produk yg boros tidak akan laku dan produsen akan terpicu untuk terus menerus meningkatkan effisiensi.

Dengan Watt sebagai unit yg diperhatikan effisiensi tidak akan di tingkatkan oleh produsen; malah isolasi dari kulkas akan dibuat makin tipis karena lebih murah. Kompressor dari kulkas dgn isolasi tipis mengkonsumsi energi per detik (Watt) tetap sama dengan yg isolasi yg tebal....Jadi konsumen ketipu....

Yang jelas konumen harus menjadi sadar dan kalau konsumen sudah sadar dan perhatikan konsumsi energi yg sebenarnya dalam Joule. Produsen produk listrik tidak dapat menipu lagi dan harus meningkatkan effisiensi produknya kalau masih mau jualan produknya.
 
 
 

Komentar 3 Oleh: ifah siahaan

Wednesday 19 Mar 2008 3:09am

artikelnya oke banget.. aku jadi ngerti kalo selama ini menggunakan satuan energi yang salah. padahal aku termasuk orang yang kalo beli barang elektronik lebih memilih yang penggunaan watt-nya paling sedikit, ternyata??? thx infonya
 
 
 

Komentar 4 Oleh: Maurice Adema

Wednesday 19 Mar 2008 9:05am

Yah betul sekali ternyata Watt tidak mencerminkan berapa energi terpakai oleh satu alat listrik. Dan pembuat alat listrik tidak mencantumkan informasi energi. Karena itu kita harap sebanyak mungkin masyarakat mulai mengerti hal ini dan mulai menuntut pihak pemerintah dan produsen untuk mulai memberi info yang benar pada peralatan listrik agar konsumen yang mau mengirit biaya dapat satu informasi yang gampang dicernah.....Watt sudah jelas informasi yang kabur!
 
 
 

Komentar 5 Oleh: indah apri

Wednesday 19 Mar 2008 11:54am

wow.. ternyata memang saya adalah buta energi.. sperti tercermin dalam artikel diatas,pembelian alat electronik slama ini hanya berdasarkan Watt, bahkan saya baru mendengar kata JOULE.. yang mana di SMA dahulu adalah watt watt dan watt yang selalu dibahas.. andaikan artikel ini dapat diterbitkan dan dipublikasikan melalui media yang lebih luas.mis:TV atau KORAN maka dampak terhadap masyarakat yang akan mengetahui hal ini akan smakin besar. dan awerness masyarakat pun jadi meningkat
 
 
 

Komentar 6 Oleh: Ridho Marpaung, SH

Wednesday 19 Mar 2008 5:12pm

Suatu pemaparan ilmiah yang benar-benar mengagetkan. Selama ini, begitu banyak orang tidak mengerti bahwa selama ini pemakaian Watt ternyata tidak bisa menggambarkan pemakaian energi listrik yang relevan, apalagi bila terkait dengan program hemat energi listrik.
Berdasar pemaparan dalam tulisan Maurice Adema diatas, terungkap Satuan yang paling tepat untuk pengukuran energi adalah Joule, dengan alasan-alasan:
1) Joule sudah diakui sebagai satuan standar untuk pengukuran energi dalam sistem metrik.
2) Joule sudah luas dipakai di seluruh dunia dalam dunia kelistrikan.

Memang belum umum untuk mendengar pemakaian Joule sebagai Satuan energi, karena selama ini Joule ditutupi oleh Watt. Dan secara ilmiah keberadaan Joule lebih tepat, karena disebutkan definisi Watt adalah Joule per detik, artinya ini sama dengan Joule= Watt x Detik. Terbukti keberadaan Joule lebih tepat daripada pemakaian Watt
Yang agak membingungkan adalah begitu banyak pakar dan ahli energi yang belum berani menyuarakan atau malah tidak tahu, bahwa pemakaian energi justru lebih pas menggunakan Joule daripada Watt. Memang tidak mudah untuk menggantikan posisi "Watt" sebagian satuan energi listrik yang umum dipakai, namun bukan berarti terlambat untuk mulai menyosialisasikan penggunaan Joule dalam berbagai wacana di masyarakat. Tentu saja penyosialisasian ini justru akan membantu masyarakat dan pemerintah dalam menggalakkan program yang kerap dijargonkan "Hemat Energi, Hemat Biaya".

(Ridho Marpaung)
 
 
 

Komentar 7 Oleh: Erna Singapore

Monday 24 Mar 2008 2:20pm

Thats very good ideas sangat bagus sekali untuk saya dan semua masyarakat luas, karena selama ini kita buta sama sekali yang namanya joule and perlu kita PELAJARI and sebar luaskan ke masyarakat luas!! Karena saya juga kadang2 bingung jg cara penghitungannya kalau saya bayar rekening ke PLN and terutama bingung kalau saya mau beli kulkas atau alat electronic yang lain yg Mana lbh IRIT!!

Terima kasih banyak atas informasinya karena dengan pemberitahuan ini semua masyarakat sadar dan bangun dari kebutaan ENERGY karena kita selama ini hanya tahu mengenai perihal WATT saja.

Erna singapore
 
 
 

Komentar 8 Oleh: haris

Wednesday 21 May 2008 9:59am

makasi banyak yah.sekarang saya tau enrgi yang sesungguhnya.watt watt watt,dari dulu saya bhanya tau yang namanya watt saja,tlong di sebarluaskan yah ke masyarakat,agar takada penipuan masalah watt,
 
 
 

Komentar 9 Oleh: cafelania

Thursday 29 May 2008 2:02pm

salam...
awalnya saya mencari tau perhitungan kwh meter..tetapi saya bersyukur menemukan kajul ini... saya menjadi lebih tau apa itu joule walaupun sebenarnya agak susah untuk memahami karna baru tau sekarang...saya ingin bertanya ne..jadi unit penentu besar kecilnya jumlah joule tersebut apa ya? mis 70 watt 3000 detik per jam. 3000 tersebut?
 
 
 

Komentar 10 Oleh: Sarjono Alibazah

Thursday 29 May 2008 2:22pm

Besar kecilnya, ya total jumlah Joule yang dikonsumsi. Ini berkaitan dengan seberapa banyak alat itu butuh energi listrik dan juga seberapa lama dia perlu nyala terus.

Di contoh di atas, lemari es pertama mengkonsumsi 5,04MJ/hari,
sedangkan lemari es kedua 2,4MJ/hari. Jelas lemari es kedua yang hemat, konsumsi energinya lebih sedikit.

Agar kita bisa membandingkan konsumsi energi dari dua produk yang mirip, produsen harus diwajibkan mencantumkan angka itu pada label produknya. Atau lembaga Konsumen bisa secara berkala menerbitkan tabel hasil evaluasi/perbandingan produk-produk di pasaran, dan data itu harus dipajang di toko-toko. Jadi memang perlu peran serta YLKI (sebagai pihak yang netral) agar laporan tersebut tidak bersifat memihak salah satu merek.
 
 
 

Komentar 11 Oleh: K_Ramdhani

Thursday 27 Nov 2008 6:42pm

yang kita tau kan
V = I . R

sedangkan daya
P = I . V

satuan daya ada yang "Watt" dan ada yang "VA"

yang saya ingin tanyakan,
apa beda nya "Watt" dengan "VA" (secara ilmiah)?

terima kasih sebelum nya atas solusi nya!

 
 
 

Komentar 12 Oleh: HAERUDIN ARBI

Thursday 23 Apr 2009 12:18pm

Thanks, Kajul.
Transfer knowledge yang sangat berguna. Saya termasuk orang yang sangat buta thd satuan energi. Ketika ingin membeli barang-barang elektronik, apakah
itu TV, AC, dan Kulkas, Tape Recorder Complite with Amply dan Speaker, selalu acuannya berapa konsumsi listrik untuk elektronik dimaksud yang hanya
tahunya satuan WATT eh ternyata satuan tsb salah yang sudah menahun, padahal dinegeri ini banyakkan orang pintar tapi mungkin belum pintar sehingga
jarang sekali yg seperti Kajul. Sekali laki thanks Kajul ............................... !!!!
Jika contoh yang diberikan kajul adalah satuan WATT dengan Joule apakah juga dapat dapat diberikan Contoh Satuan KVA dengan Joule ( ketika orang akan
memutuskan pembelian Generating set) sehingga dapat menentukan boros tidaknya dlm konsumsi solar atau kwh perdetikNya jika arus yang dkonsumsi me
lalui PLN.
 
 
 

Komentar 13 Oleh: yopyopy

Friday 8 May 2009 9:54am

Setahu saya

P = V . I adalah daya untuk tegangan DC, sedangkan untuk perhitungan tegangan AC perlu diketahui adanya faktor daya (cos phi ). jadi untuk tegangan AC perhitungan dayanya menjadi P = V . I . cos phi

Sedangkan pada umumnya cos phi yang ada bervariasi tergantung dari reaktansi2 maupun dari induktansi2 dari alat listrik.

Contoh:

Pompa air dengan nameplate 125W. Secara kasar dapat diketahui arusnya yaitu:

P = V .I ===> 125=220.I ===> 125/220= 0.57 Ampere

energi yang digunakan adalah :

P = V . I . cos phi

dengan asumsi cos phi dari PLN adalah 0.8, maka didapat arus sebesar 0.71 Ampere.

Mohon dikoreksi
 
 
 

Komentar 14 Oleh: Sarjono Alibazah

Saturday 9 May 2009 10:01am

P adalah singatan dari Power, atau dlm bhs Indonesianya Daya, bukan Energi. Sedangkan si Kajul bicara Energi. Memang kerancuan pengertian sering terjadi antara Daya dan Energi.

Power satuannya adalah Watt, yang salah satu persamaannya adalah Joule per detik, jadi seberapa banyak energi per detik. Memang ada banyak formula lainnya, seperti V x A, atau Tegangan x Arus. Namun Kajul bicara khusus Energi, karena ini kampanye melawan Buta Energi, jadi dia tidak bicara arus maupun tegangan, apalagi bentuk kurva sine wave listrik. Itu semua bukan bicara Energi.

Kajul jelas mengarahkan kita untuk melihat gambaran Energi secara keseluruhan, bukan hanya satu detik. Apakah informasi lemari es Anda mengkonsumsi (750W) 750 Joule dalam satu detik berguna bagi Anda? Rasanya, hidup kita di dunia nyata ini berlangsung lebih dari 1 detik. Informasi 1 detik tidak berguna bagi end-user, yang pasti tidak hidup sesaat (hanya eksperimen di laboratorium yang skala waktunya sekecil detik).

Jadi Kajul mengajak kita melihat berapa jumlah energi yang dikonsumsi dalam 1 jam, 1 bulan, dst. Kita sebagai konsumen yang membayar tagihan listrik, harus tahu berapa banyak konsumsi listrik sebenarnya dari alat-alat listrik di rumah kita... di akhir bulan.

Untuk itu, suatu hari kita akan menggunakan alat bernama Joule Counter, yang tugasnya merekam jumlah energi yang dipakai perabot listrik, misalnya sebuah lemari es, yang tersambung kabel listriknya Joule Counter (JC) tersebut. Seperti sudah Kajul jelaskan di website ini, sebuah kompresor lemari es ada saatnya bekerja keras, ada juga saat istirahat. Nah, JC pada lemari es ini bisa kita biarkan menghitung selama sebulan, dan tiap hari juga bisa kita catat berapa kiloJoule penggunaan energi listriknya. Di akhir bulan tahulah kita seberapa besar konsumsi energinya. Kemudian angka tersebut dibandingkan dengan pengukuran JC pada alat-alat lain di rumah, seperti ac, tv, komputer, pemanas air, dll. Sehingga gambar sebenarnya terlihat jelas, alat listrik manakah yang paling besar konsumsinya (mungkin lemari esnya lebih tinggi konsumsinya daripada ac?). Untuk kemudian lebih menghemat biaya tagihan, bisalah kita mencari lagi perabot rumah tangga yang konsumsi energinya lebih kecil dari yang sudah ada di rumah, sebagai pengganti. Nah, ini butuh kerjasama para produsen perabot listrik tsb. Mereka juga harus mengukur di lab mereka berapa konsumsi energi dari alatnya dalam satuan kJ per jam, per hari atau per bulan, dan mencantumkan data itu di labelnya, sehingga kita bisa pilih-pilih.

Setelah kita mulai pintar melihat gambar keseluruhan, barulah kita bisa melihat persamaan antara energi listrik untuk memasak, mengendarai mobil listrik, mengoperasikan komputer, mendinginkan ruangan, dsb. Semua ada kaitannya.

Nantinya kita bisa melihat apakah jumlah energi listrik yang tersimpan dalam baterai mobil listrik kita akan cukup untuk mengantar kita sampai ke tempat tujuan, atau apakah lebih murah dan efisien memasak dengan listrik atau dengan gas elpiji, bahkan apakah kita butuh mengkonsumsi listrik PLN sebanyak itu tiap bulannya. Ini semua pertanyaan masa depan, yang sebentar lagi akan tiba bila kita sudah bisa merubah paradigma kita dari sekarang.

Jadi, kapan PLN mencantumkan di tagihan listrik, jumlah energi listrik yang telah sebulan kita pakai dalam satuan kiloJoule atau MegaJoule? Itu tergantung political will. Maukah PLN Sadar Energi? Kalau ingin program Hemat Energi berhasil, kesadaran Energi justru harus dimulai dari PLN sendiri, bukan dari konsumen!

 
 
 

Komentar 15 Oleh: galuh arum

Sunday 14 Jun 2009 9:52pm

waah bagus sekali informasinya... tapi sayang belum ada alat yng memudahkan kita untuk mengetahui konsumsi energi di rumah kita.
 
 
 

Komentar 16 Oleh: Dan

Saturday 18 Jul 2009 5:08pm

@Galuh Arum
lha tu tugas akhir kita kan uda jadi Luh...Joulemeter V1.0, sebuah prototype sistem pengukuran konsumsi energi dalam satuan Joule berbasis Microcontroller dengan fitur penyimpanan data
 
 
 

Komentar 17 Oleh: John Fontana

Sunday 20 Sep 2009 7:45pm

Artikel yang aneh.... Menurut saya bukan masalah Watt atau Joule nya. Mau pake watt atau Joule kan yang dipermasalahkan gak dicantumkan konsumsi per detik, per jam, per harinya... Emang ada yang salah kalo pake watt.... sampai nuduh2 pake teori konspirasi. Kalo pake Watt terus produsen alat listrik cantumin konsumsi KWh apa bedanya??? Lebih enak lagi kan tinggal kali harga satuan PLN. Sama juga dengan Joule atau Kj atau MJ, kalo gak dikasih tau per hari, per bulan kita juga tetap buta kan...
 
 
 

Komentar 18 Oleh: Sarjono Alibazah

Monday 21 Sep 2009 11:20am

Nah, kalau nggak ada yang aneh dan nggak ada bedanya, coba jelaskan:
How much electricity is 1 kilo watt hour/hour ?
Jawabannya 1 kilowatt? (satuan hournya saling mengcancel).

Salah. 1kilowatthour/hour itu adalah kecepatan konsumsi (sebenarnya berarti 1kWh setiap jamnya). Tapi satuannya jadi terlalu kompleks bagi konsumen. Jadi tadi berapa kalau 1kilo watt hour per hour per day, Mas?

Bukankah label 3.6 MJ/hour lebih mudah (3,6MJ setiap jam)? per day non stop jadi 86,4MJ ya, Mas?

Produk-produknya Sundaya (produsen yg mencetuskan program situs ini) semuanya sudah dipasarkan dengan informasi basis Joule, dari panel surya, penyimpanan , hingga alat listriknya. Info Wattnya tidak dipakai lagi. Dan konsep ini ternyata bisa dengan mudah dimengerti langsung oleh konsumen pedesaan di Srilanka. Lain halnya dengan masyarakat kota di Indonesia, yang sudah lebih terpelajar daripada masyarakat desa.

Memang kini juga dibutuhkan partisipasi PLN mencantumkan harga TDL, murni sebagai Rp/MJ (tidak dengan perhitungan TDL dan abonemen yang berbelit-belit itu). Setelah itu semuanya jadi mudah. Menggunakan sebuah Joule Counter, Anda bisa ukur sendiri berapa MJ listrik dibutuhkan untuk merebus mie instan dengan kompor listrik induksi magnetis, dibandingkan dengan berapa MJ gas Elpiji untuk merebus mie instan yang sama tapi dengan kompor gas (hitung berapa liter gas yang terkonsumsi, lalu dikalikan 22,16MJ/liter untuk mendapatkan jumlah energi gas yang dibutuhkan). Kemudian kalkulasi ongkosnya (Rp/MJ listrik vs RP/MJ Elpiji). Harga energi listrik kurang lebih Rp200-300/MJ. Harga gas Elpiji 3kg kurang lebih Rp125/MJ. Setelah dihitung dengan Joule Counter (prototip punya kantor), kompor listrik saya (beli murah di hypermarket) membutuhkan 0,190 MJ listrik PLN untuk masak mie itu. Untuk pakai Elpiji ternyata 2,4MJ.

Alhasil, setelah melewati segala kalkulasi tsb, kini bandingkan total biaya energinya yaitu Rp 38-57 (listrik PLN) vs Rp 300 (Elpiji). Jadi cara memasak lebih murah yang mana, listrik atau gas? Semua datanya bisa diukur atau dicari (ada juga di buku Energi yg bisa didownload dari situs ini). Barulah Anda tahu ternyata kita semua dobodohi selama ini.

Tapi ya hanya bisa bermain kalkulasi energi komparatif begini kalau menggunakan basis Joule, bukan Watt. Joule adalah paspor untuk browsing dan membandingkan perhitungan segala bentuk energi, sehingga pola pikir kita tidak lagi bisa didikte para penguasa industri energi (conspiracy or no conspiracy). Untuk itu harus ada kerelaan mencoba dan keluar dari zona nyaman tempurung Watt kita.

Mau?
 
 
 

Komentar 19 Oleh: herry purnomo

Friday 6 Nov 2009 12:57am

Sebuah satun MW (J/s) or GWH (J) dipakai sesuai dengan keperluannya.

Dalam sistem tenaga listrik jika produksi MW pembangkit harus sama dengan MW demand (permintaan) dari load/beban untuk setiap waktu makan frekuensi sistem tenaga listrik akan stabil pada frekuensi 50Hz, jika produksi MW dari pembangkit lebih tinggi dari MW demand (permintaan) dari load/bebanmaka frekuensi sistem listrik akan naik, dan jika produksi MW dari pembangkit lebih rendah dari MW demand (permintaan) dari load/beban maka frekuensi sistem listrik akan rendah. Padahal untuk kestabilan sistem perlu dijaga pada frekuensi 50 Hz, padahal permintaan MW dari load konsumen yang harus disupplay produksi MW pembangkit berfluktuasi dari pagi sampai malam, disinilah peran utiliti listrik (PLN) untuk selalu menyamakan antara MW permintaan konsumen dengan MW permintaan pembangkit setiap waktunya, sehingga yang dimonitor adalah MW bukan GWh.

Jadi satuan MW tidak harus dihilangkan.

Sedangkan GWh untuk mengetahui jumlah konsumsi energi listrik yang dipakai oleh load/beban pada periode waktu tertentu.
 
 
 

Komentar 20 Oleh: bic raddin

Friday 6 Nov 2009 12:58am

Sebuah satun MW (J/s) or GWH (J) dipakai sesuai dengan keperluannya.

Dalam sistem tenaga listrik jika produksi MW pembangkit harus sama dengan MW demand (permintaan) dari load/beban untuk setiap waktu makan frekuensi sistem tenaga listrik akan stabil pada frekuensi 50Hz, jika produksi MW dari pembangkit lebih tinggi dari MW demand (permintaan) dari load/bebanmaka frekuensi sistem listrik akan naik, dan jika produksi MW dari pembangkit lebih rendah dari MW demand (permintaan) dari load/beban maka frekuensi sistem listrik akan rendah. Padahal untuk kestabilan sistem perlu dijaga pada frekuensi 50 Hz, padahal permintaan MW dari load konsumen yang harus disupplay produksi MW pembangkit berfluktuasi dari pagi sampai malam, disinilah peran utiliti listrik (PLN) untuk selalu menyamakan antara MW permintaan konsumen dengan MW permintaan pembangkit setiap waktunya, sehingga yang dimonitor adalah MW bukan GWh.

Jadi satuan MW tidak harus dihilangkan.

Sedangkan GWh untuk mengetahui jumlah konsumsi energi listrik yang dipakai oleh load/beban pada periode waktu tertentu.
 
 
 

Komentar 21 Oleh: angin165

Friday 6 Nov 2009 10:44am

saya agak tidak sepakat dengan artikel ini. saya sepakat dengan komentar herry purnomo

mengapa diributkan soal watt versus joule? watt adalah satuan daya, joule adalah satuan energi. 2 hal yang berbeda seharusnya tidak bisa diperbandingkan.
apabila kita melihat rating alat listrik dalam daya listrik yg dibutuhkan (watt), apa salahnya sehingga harus ditampilkan dalam energi (joule)? toh kita akan bayar pemakaian listrik kita dalam kilo-watt-hour alias energi listrik yg kita pakai, sama aja dengan joule. kita tidak pernah bayar listrik dalam satuan watt, selalu dalam satuan energi, kilo-watt-jam (contoh kasar, tarif PLN, sekitar Rp. 600/kWh cmiiw). kalau mau dikonversi, 1 watt.detik = 1 Joule, artinya 1 kWh = 1.1000.3600 Joule. Jadi kalau rating ditampilkan dalam daya (Watt) jumlah yang akan kita bayar ya tergantung pemakaian kita berapa lama dengan alat tersebut. Bisa saja ditampilkan rating alat dalam Joule, tapi ingat, harus jg ditampilkan dalam berapa waktu sekian joule tersebut (contoh, 3600 kJoule/detik) karena dalam satuan joule implisit waktu didalamnya. Kalau ditampilkan dalam watt ya tinggal anda kalikan saja berapa lama anda pakai, energi sebesar itulah yang akan anda bayar.

berikutnya, hukum kekekalan energi masih berlaku saat ini, artinya energi yang dihasilkan akan sama dengan energi yang diperlukan. dalam hal ini menurut saya, misalnya kita membutuhkan sejumlah energi untuk memanaskan air 1 ember hingga 100 derajat celcius, energi yg kita butuhkan akan sama, mau pakai kompor listrik yg 70W atau 100 W. kalau pakai yg 100 W mungkin lebih cepat, jelas, tapi total energinya akan sama. sedangkan kita bayar ke PLN adalah energi yg terpakai, jadi mestinya akan sama aja energi yg harus kita bayar untuk memanaskan air satu ember hingga 100 derajat celcius. untuk menghemat salah satu caranya adalah memakai peralatan yg efisiensinya tinggi, artinya kita tidak memerlukan energi masukan yang lebih besar untuk mengkompensasi rugi-rugi energi di peralatan itu untuk mendapatkan energi keluaran yang sama. dengan kata lain kita tidak perlu bayar energi yg hanya terbuang di peralatan tsb.

salam,
 
 
 

Komentar 22 Oleh: hutom

Friday 6 Nov 2009 1:29pm

Yang saya bingungkan dari inti artikel ini adalah :

Bagaimana bisa kita dapat memperkirakan berapa besar pemakaian energi sebuah alat dalam 1 hari ataupun 1 jam misalnya?

Ambil contoh deh Air Conditioner 1/2 PK. Tertulis membutuhkan daya 350 Watt untuk pengoperasiannya...
Bagaimana bisa Sang Produsen AC tersebut disuruh memperkirakan berapa konsumsi energi AC itu dalam waktu 1 jam, ketika ada faktor2 berikut :
a. Luas ruangan tempat AC itu dioperasikan. Ruangan besar lebih butuh banyak energi daripada ruangan kecil.
b. Suhu ruangan saat AC itu dioperasikan.
c. Suhu luar ruangan saat AC itu dioperasikan.
d. Target suhu yang akan dicapai saat AC itu dioperasikan. (Misalnya diatur pada remote control suhu 16C atau cukup suhu 24C aja, tentu beban kerja AC nya beda)
e. Perilaku manusia di ruangan tersebut saat AC dioperasikan. (Misalnya sering buka-tutup pintu, membuka jendela lebar-lebar, merokok dalam ruangan)
f. Jumlah manusia di ruangan tersebut (Semakin banyak manusia ruangan tambah panas)
g. Kualitas listrik PLN yang tegangannya naik turun cukup banyak. Bahkan byar-pet.
h. Kondisi AC itu sendiri pada saat dioperasikan. Apakah kondisi baru dan prima? Atau berdebu, sudah 2 tahun tidak dicuci dan diservis?

Kalau sekian banyak faktor? Bagaimana caranya si perusahaan disuruh memberi tahu konsumen berapa Joule penggunaan energinya dalam 1 jam? sementara penggunaan energi itu sendiri sangat berpengaruh pada faktor2 tersebut yang notabene tidak bisa dikontrol oleh produsen.

Jadi menurut saya, pemakaian satuan Watt sudah tepat dan tidak membingungkan baik bagi konsumen maupun produsen. Jangan lupa bahwa Watt adalah Joule per detik. Bukankah intinya sama saja?

Menurut saya, daripada ribut2 membicarakan masalah satuan dengan dalih melindungi konsumen, saya rasa yang lebih tepat sasaran adalah edukasi konsumen bagaimana sih cara penggunaan suatu alat sehingga menghemat listrik.

Saya berani jamin, sekalipun si produsen sudah menulis konsumsi energi dalam satuan Joule, konsumsi energi pada prakteknya tidak akan bisa tepat seperti yang diklaim. Itu kan barang mekanikal dan elektronikal, yang komponen2nya bisa aus, bisa rusak. Tidak bisa sangat presisi juga dalam kenyataannya. Nanti kalau sudah begitu disebut menipu lagi?
 
 
 

Komentar 23 Oleh: enk

Friday 6 Nov 2009 3:48pm

Penggunaan satuan itu sesuai keperluannya, 'watt', kenapa harus dihilangkan? memang benar kita ini menggunakan energi yang mungkin dalam satuan detik tidak terlalu kerasa buat kita, jadi buat orang awam, energi per hari ato per bulan mungkin lebih umum, tapi wahai pembaca yang budiman, mohon dilihat kasus diatas ini hanya salah satu kasus dari banyak kasus, pada kasus ini terdapat 2 buah kulkas dengan nilai watt tertera yang berbeda dan penggunaan kompressor yang berbeda rate penyalaannya sehingga dihasilkan energi yang ternyata lebih kecil dengan watt yang lebih besar, tidak salah memang, tapi perlu diingat bahwa kekekalan energi disini berlaku sehingga penggunaan energi yang lebih besar dalam ukuran waktu tertentu akan berarti bahwa kinerja yang dihasilkan pada kasus tertentu (dalam hal ini kompressor) juga akan lebih baik dengan asumsi efisiensi keduanya sama. sehingga bukan menjadi masalah penggunaan satuan dalam satuan watt, dan perlu diingat bahwa watt merupakan satuan DAYA dan bukan ENERGI.

Bagaimana dengan kasus beban yang tidak dinamis? saya katakan dinamis karena ada beban yang statis alias sama besar penggunaan energinya setiap saatnya (setiap detiknya / joule per detik atau watt), sebagai contoh pada sebuah pemanas, kompor, setrika, lampu, dan banyak lagi, contoh beban dinamis seperti kulkas, komputer, peralatan elektronik lainnya, sehingga saya katakan bahwa pada setrika dengan label 30W tentunya akan menghabiskan daya yang lebih rendah per jamnya dibandingkan dengan yang 50W karena bebannya tidak dinamis (meskipun kenyataan penggunaannya dinamis karena penggunaan bimetal untuk proteksinya) begitu juga dengan solder dimana nilai yang tertera tidaklah menipu, semakin besar nilai wattnya semakin boros listriknya, namun ada hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam kasus pemanas, jika memang ingin menggunakan pemanas yang lebih besar tentunya akan dipilih rating watt yang lebih besar.

ada kesalahan fatal disini, ingat bahwa dalam menentukan ukuran suatu barang elektronik, BUKAN dilihat dari kecilnya watt yang tertera, tapi dilihat dari KEBUTUHAN nya masing-masing, tentunya sebuah kulkas dengan watt yang lebih besar menghasilkan kinerja yang lebih bagus seperti lebih cepat dingin, akan tetapi trade off nya adalah penggunaan energi yang lebih besar juga, contoh lain adalah solder, dengan watt yang lebih besar, panas yang dihasilkan adalah lebih besar dibandingkan dengan watt alat yang lebih kecil. disini dapat dilihat bahwa bukan berarti dengan watt yang lebih kecil kinerja yang dihasilkan adalah sama. yang membedakan antara alat elektronik yang satu dengan yang lainnya adalah efisiensi sebuah alat untuk mengkonversi kebutuhan energi yang diperlukan dalam ukuran watt yang sama. sehingga dapat dikatakan tidak menjadi masalah seandainya satuan pun diganti tetap saja masyarakat awam akan tetap bingung jika tidak dicerdaskan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga masyarakat lainnya.

pada setiap barang elektronik yang baik biasanya tertera label rating tegangan dan daya nya, sehingga seharusnya pembeli tidaklah tertipu, misal kita membeli sebuah komputer dengan power supply tertera 500W 220V/50Hz. dari sini terlihat bahwa pembeli harus menggunakan outlet dengan rating tegangan 220 nominal berfrekuensi 50Hz dan akan menghasilkan daya maksimum 500W (peak) sehingga jika menggunakan kalkulasi kasar bisa didapat arus yang digunakannya (meskipun kenyataannya penggunaan komputer tergantung kerja komputer saat itu, tidak berarti harus 500W, bisa lebih kecil dari ini). nah hal ini pula berarti bahwa komputer ini tidak dapat digunakan pada outlet dengan rating tegangan 110/60Hz misalnya. nah coba bayangkan jika yang tertera adalah J/hour???? kita asal pasang aja itu komputer pada outlet yang salah dan walhasil??? tidak akan menyala itu komputer... nah sekarang coba kita mengandaikan satuan komputer dalam J/hour. bagaimana mungkin kita bisa tau nilai Joule nya dalam satu jam secara tepat?? kerja komputer itu tergantung program apa yang dijalankan seberapa berat memory yang digunakan seberapa besar kebutuhan VGA nya, dengan kata lain ini bebannya sangatlah dinamis, kira kira bisakah kita tulis begitu saja dalam satu jam komputer ini menggunakan sekian Joule???

contoh lainnya adalah misal sebuah solder tertera 20 J/jam kemudian kita hanya menggunakannya selama 5 menit saja, lantas apa yang terjadi? kita tentunya harus tetap menghitungnya dengan basis per 5 menit bukan? sehingga apakah menjadi masalah dengan penggunaan watt yang tidak lain adalah joule per detik.???

mengenai masalah tipu menipu saya kira ini tidak ada hubungannya dengan penggunaan satuan, kalo dibilang satuan sebuah alat adalah 20 J/jam nya maka apakah itu alat pasti segitu kinerja nya? belum tentu juga kan? kalopun diganti tetap saja masalah tipu menipu adalah urusan produsen alat dan konsumen tidak ada hubungannya dengan satuan yang digunakan.

saya takut terjadi salah persepsi bagi masyarakat awam mengenai hal ini. terima kasih.
 
 
 

Komentar 24 Oleh: hnmch

Friday 6 Nov 2009 4:40pm

setuju ama komen di atas. judulnya perlu di ganti. karena pun argumentasi ts bener, ga ada hubungannya deh ama PLN manfaatin pelanggan buat nyari untung atau nipu atau apapun. bukan apa2 ya, tapi judul yang nge flame kayak gini musti ati2, apalagi di ranah dunia maya. orang2 bisa dapet info yang salah.

kenapa gw bilang post ini ga ada hubungannya dengan PLN? karena yang di protes oleh ts adalah satuan penggunaan energi yang ga semuanya make Joule, bener ga? kedua, penggunaan watt sebagai alat ukur peralatan listrik yang menurut ts tidak pada tempatnya, bener ga? kalo gitu, berarti ts pengen memprotes akademisi listrik di seluruh dunia (karena satuan energi yang beda2 itu berlaku di seluruh dunia) dan juga perusahaan2 produksi alat2 elektroniknya sekalian. bener ga?

jujur gw cukup excited ngeliat judulnya (ngerasa ke-flame juga). tapi begitu baca artikelnya, gw ngerasa 'ketipu'. di awal2 ts menawarkan konsep buta energi yang dialami oleh semua orang. diteruskan dengan kesalahan2 yang dibuat oleh pln dan pemerintah dan masyarakat yang buta energi. krisis energi pun dianggap berakar dari masalah buta energi. masalahnya, bener gitu?

ok, gw anak teknik. tapi gw ga perlu jadi insinyur listrik buat tau kalo watt itu joule per detik. itu di ajarin di sma. gw belajar itu di bimbel buat persiapan spmb. gw juga tau kalo watt (satuan daya) dikali hour (satuan waktu) bakal jadi watthour yang setara dengan 3600 Joule (satuan energi). mengapa? karena satu hour = 3600 detik. dan fyi, pln menghitung penggunaan energi kita itu berdasarkan watt hour. atau kilo watt hour (kWh) yang berarti seribu watt hour. so, there was nothing wrong with pln calculation to begin with,wasnt there?

komen masalah satuan yang berbeda2, emang udah dari sononya gan. its just what it is. meski ada sistem satuan SI (starndard international) pun, yard/feet/inch dan pound/ounce masih tetep dipake sebagai satuan panjang dan massa. kenapa di bidang energi satuannya terkesan banyak, ya karena cabang nya emang banyak. dan gw yakin semua ada alasannya. klo bingung masalah konversi, bisa tanya mbah Google anytime.

terakhir, soal satuan watt yang dipakai oleh alat2 elektronik. kt gw itu sih udah international standard. perlu diingat kalau watt itu diturunkan dari joule (satuan energi) per detik (satuan waktu). watt sendiri merupakan satuan daya yang artinya rata-rata energi yang digunakan tiap satuan waktu. jadi untuk tahu berapa joule penggunaan listrik kita, tinggal mengkalkulasi berapa lama peralatan listrik di rumah kita menyala. as simple as that.

Quote:
If a 100 watt light bulb is on for one hour per day for 30 days, the energy used is. 100 W × 30 h = 3000 W·h = 3 kW·h or 10.8 million joules.

quote di atas gw catut dari wiki. sebagai gambaran gimana sih sebenernya kalkulasi penggunaan energi listrik. dan as i said, kalkulasi tagihan listrik pln kita juga berdasarkan itu. tapi memang, perlu diperhatikan kalau penulisan daya di beberapa peralatan listrik itu ga saklek. seperti komputer, yang daya nya berbeda ketika dinyalakan, kondisi bekerja, kondisi stand by, dll. pernah ngerasain listrik 'anjlok' ketika beberapa peralatan listrik dinyalakan berbarengan? ya seperti itu. tapi secara umum sih, hal2 seperti itu bisa dilupain karena seringnya kurang signifikan.

anyway, gw cukup salut dengan ts yang kritis, mempertanyakan sesuatu yang tidak biasa. hanya saja, gw mengkritik cara penyampaiannya, terutama judul thread yg agak2 gimana gitu. well, semoga post gw ini mencerahkan. bwt ts, tolong ditaruh di halaman depan ya
 
 
 

Komentar 25 Oleh: dahono

Friday 6 Nov 2009 5:14pm

Kalau anda bergaul dengan abg, bicaralah dalam bahasa abg. kalau kita pake bahasa orang tua, mereka nggak ngerti atau ga dianggep. Kalau di jakarta, bicaralah pake bahasa indonesia dialek jakarta, kalau anda pake dialek lain mereka akan ketawa.
Demikian dulu di bidang teknik untuk barang yang sama, mereka bisa menyebut berbeda, tergantung bidang keahliannya apa. Di dunia energi juga sama, orang fisika, orang minyak, orang elektro, mesin semua menggunakan istilah yang berbeda. Kalau ada orang bidang lain yang bingung, mereka cuma akan bilang bacalah daftar istilah. Orang amerika akan menyebut 20000 sebagai dua puluh ratus, bukan dua ribu, ini hanya kebiasaan.
Jadi, kalau orang elektro menggunakan energi dengan satuan kilowatt-hour, itu juga masalah kebiasaan. Inipun bukan kebiasaan semua orang elektro, orang arus lemah akan menggunakan istilah lain untuk energi. Orang pasar juga lebih seneng bicara lusin, orang mengukur benang dengan yard, semua kebiasaan.
Kalau harus pake satuan internasional (SI), malah banyak orang yang bingung.

Kembali ke soal energi. ENergi adalah kapasitas melakukan kerja. Misal kemampuan memindahkan sepuluh buah batu, tidak bergantung pada berapa lama waktu yang diperlukan. Daya adalah kecepatan melakukan kerja. Misal, berapa batu bisa dipindah per satuan waktu. Dari sini jelas bahwa kedua satuan tersebut sama2 diperlukan.

Kembali ke peralatan listrik. Jelas bahwa kompresor 70 Watt lebih hemat dari kompresor 100 Watt. Ingat bahwa watt adalah satuan daya, artinya kecepatan melakukan kerja. Ingat bahwa 70 dan 100 watt tersebut adalah daya maksimum, bukan daya yang sebenarnya diperlukan oleh kompresor. Seberapa daya yang dipake sangat ditentukan oleh cara kita memakai kompresor atau kulkasnya. Walaupun kita pake kompresor 100 watt, belum tentu lebih boros dari kompresor 70 watt. Demikian pula sebaliknya. Karena sangat tergantung cara pake, tidak mungkin suatu kulkas atau kompresor ditulis dengan sekian kilojoule per jam atau sekian kilowatthour per jam. Jadi yang bisa ditulis oleh pabrik adalah kebutuhan daya maksimum.

Ini sama dengan mobil. Apakah mobil ber cc besar yang dayanya 300 HP pasti lebih boros dari mobil ber cc kecil dengan daya 100 HP. Kembali lagi tergantung cara pake. Berapa liter bensin yang dipake setiap kilometernya sangat ditentukan oleh cara pake. Itu sebabnya pabrikan hanya bisa menuliskan daya maksimum. Kalau sampai ditulis sekian kilometer per liter itu dengan asumsi-asumsi tertentu.
Truk gandeng akan lebih efisien kalau dikasih mesin 300 HP sedangkan city car akan lebih efisien kalau dikasih mesin 100 HP.

Dengan kata lain, pencantuman watt memang mutlak dan hanya itu yang bisa dilakukan. Kalau sampai mencantumkan kWh per jam, perusahaan malah melakukan kebohongan publik.

Efisien atau tidak sangat tergantung cara pakai. Kalau kita membandingkan sesuatu, harus apple to apple, hangan apel dengan jeruk.
Jika outputnya sama, misal lampu yang terangnya sama, jelas bahwa yang wattnya kecil lebih hemat.

salam

 
 
 

Komentar 26 Oleh: Maurice Adema

Saturday 7 Nov 2009 10:44pm

Memang sangat betul; konsumsi energi sebuah Airconditioner dan juga sebuah lemari pendingin sangat terpengaruh oleh kondisi kondisi pemakaianya.

Sebuah compressor dalam kulkas atau aircon bekerja untuk mengkompresikan gas yg telah meyerap panas dari ruangan atau lemari es sampai menjadi cair (liquid). Dari kompresikan gas menjadi liquid tersebut semua energi panas yg tadinya misalnya berada dalam 100 liter gas setelah dikompresikan berada dalam misalnya 1 liter liquid. Itu berarti liquid itu menjadi tekonsentrasi dengan panas tinggi....dan karena panasnya tinggi misalnya 70 derajat celsius panasnya bisa di buang oleh satu ventilator .....kan panas tinggi pasti akan bergerak dan lari ke benda atau udara sekililingnya yg suhunya lebih rendah.

Sesudah cairan telah di dinginkan oleh ventilator; cairan tersebut disalurkan ke "evaporator" (didalam lemari es atau yg disebut indoor-unit dari aircon) dan disitu cairan akan diekspansi lagi menjadi gas.
Yg 1 liter cairan menjadi misalnya 100 liter gas dan karena itu gasnya akan jadi sangat dingin...dan karena dingin suhu didalam kamar atau dalam lemari es akan lebih tinggi dari suhu gasnya dan itu mengakibatkan udara akan mengalirkan panasnya dan akan panaskan gas tersebut. Dengan kata lain energi panas dari ruangan aka "disedot" ke daam gas yg terekspansi dalam evaporator....jadi sistem ini bisa dikatakan adalah "pompa atau penyedot energi panas"

Sebelum menyalakan Aircon, suhu dalam ruangan akan hampir sama dengan suhu luar yg misalnya 30 derajat...dan saat ac dinyalakan ac akan memompa keluar energi panasnya melalui sistem kerja diatas. Lama kerjanya AC tergantung dari berapa volume ruangan dan seberapa besar "kebocoran panas" dan berapa orang dan alat alat berada dalam ruangan yg menghasilkan panas.

Kebocoran panas terjadi lewat jendela, dinding, plafon, lantai pintu dan sebagainya dan misalnya didalam ruangan kita menyalakan TV yg 100 W dan lampu yg 100W berarti setiap detik didalam ruangan akan dihasilkan 2 x 100 J (menjadi 2 x 360 kJ per jam sebagai tambahan panas)

Ditambah lagi badan kita yang juga kira kira menhasilkan panas sebesar 100 J per detik atau 360 kJ/Jam tergantung kegiatan.

Nah hitungannya akan jadi begini:

Ruangan yg misalnya punya kebocoran panas lewat dinding plafon jendela dan pintu sebesar 2 MJ per jam dan kita ada didalam ruangan dengan TV + lampu tadi yg hidup bearti ada tambahan hasil panas sebesar 3 x 360kJ = 1080 kJ/jam berarti untuk mempertahan suhu dalam ruangan Aircon harus bekerja untuk membuang 2MJ + 1.08MJ (bulatkan menjadi 3 MJ per jam)

Sekarang bagaimana kita harus menghitung untuk pilih AC-nya sebesar apa?

Tugasnya adalah memompa keluar 3MJ per jam.

Apakah butuh ac 1/2Pk, 3/4Pk atau 1PK?

Jawaban: PK adalah singkatan dari "Paarden Kracht" (bahasa belanda) dan artinya Tenaga Kuda......masa pakai kuda untuk dinginkan ruangan???...sekarang sudah bukan jaman kuda dan sudah harus melestarikan unit PK itu di "museum sejarah energi"

Karena orang masih sangat senang mengunakan PK khusus untuk mobil2 bakar; PK pernah distandardisasi menjadi 746 J/s (Watt) dan dari itu muncul 1/2 PK kira-kira sama dengan 350 Watt.

Nahhh semua ini kan sangat membingungkan....yg terpenting dari sebuah alat pendingin adalah seberapa efficien dia melakukan tugas....

Tugas = Memompa keluar energi panas (buang MegaJoules keluar ruangan)
Input = Energi Listrik

Efficiensi alat alat pending yg ada dipasaran bervariasi antara 200% s/d 350%....dan ini terasa aneh karena kita tidak terbiasa mengenal effisiensi yg lebih dari 100%

Tetapi sebuah ac adalah Heatpump dimana energi panas adalah output dan energi listrik adalah input....dan karena energi listrik adalah kwalitas energi lebih tinggi daripada energi panas dia mampu mencapai efficiensi diatas 100%.

AC yg konsumsi energi 350J/s dengan effisiensi 300% bisa memompa energi panas keluar sebesar 300% x 350J/s = 1050 J/s = 3.78 MJ per jam

Tadi kita hitung contoh ruangan dimana kita harus buang 3MJ per jam dan kalau mengunakan AC yg ini ACnya akan hidup selama 3/3.78= 0.79Jam (atau +/- 48 menit per jam)

Informasi untuk konsumen yg paling penting adalah sbb:

1) Besarnya kemampuan memompa energi panas (misalnya 5MJ/jam atau 10MJ/jam)

Yg sekarang makin banyak mulai muncul adalah BTU misalnya 7.000BTU/jam atau 12.000 BTU per jam
BTU adalah unit energi juga tapi dari British standard dan karena kita di Indonesia menggunakan metric standard tentu lebih baik kita mengunakan Joule dan bukan BTU.....agar buta energi kita bisa di obati...(siapa mau konversi terus menerus dari PK ke BTU ke calori...untuk ukuran berat kita semua mengunakan gram dan kg kan....mengapa energi harus beda beda terus?)

1 BTU = 1.05kJ dan 10.000 BTU = 10.5 MJ jadi 7000 dan 12.000 bisa kita baca sebagai +/- 7MJ/jam dam 12 MJ/jam

2) effisiensi (200%, 250% atau 350% makin tinggi makin baik )

3) Konsumsi energi per jam (misalnya yg 350W tadi konsumsinya 1.26 MJ/jam dengan kondisi menyala dengan kapasitas penuh)

Kemudian konsumen harus mulai diajarkan bahwa sebuah AC akan bekerja lebih irit kalau kita kurangi "kebocoran panas" (isolasi dinding, isolasi atap/plafon, kaca double dsb semua akan membantu mengirit pemakaian energi)

Dan kalau konsumen sudah mulai sadar mengenai fakta bahwa yg dia bayar ke PLN adalah MJ industri pembuat AC akan makin kfokus untuk meningkatkan efficiensinya dan satu saat akan menambah MJ counter di alatnya agar konsumen bisa memonitor pemakaianya....dan apabila terlihat konsumsi energi (pemakainan MJ nya) lebih tinggi dari biasa berarti sudah waktunya untuk menservice....karena sangat benar dari komment bapak kalau alatnya kotor berdebu efficiensi mesin tersebut akan menerun dan pemakaian energi meningkat.

Kami dari Kajul sudah membuat sebuah Joule Counter dan alat tersebut bisa digunakan untuk memonitor konsumsi AC dan Kulkas dan bermacam2 alat listrik lain.

Saya hararp penjelasan saya bisa membantu,

Terima Kasih,
Maurice

 
 
 

Komentar 27 Oleh: Maurice Adema

Saturday 7 Nov 2009 10:56pm

Satu tambahan komment lagi untuk aircon:

Sekarang makin banyak aircon masuk pasaran yg memasarkan produknya dengan "Inverter" dan mengaku konsumsinya 50% lebih irit.....700Watt menjadi 350Watt.

Konsumen yg buta energi mungkin akan gampang percaya dengan info yg kabur tersebut...mungkin terutama karena merek yg terkenal handal...tapi sebenarnya konsumen tetap tertipu.

Yang paling penting untuk konsumen adalah:

1) Berapa efficiensi ac tersebut
2) Berapa kapasitas nya menyedot panas dari ruangan
3) Berapa konsumsi energi per jam

Seharusnya pemerintah menetapkan 3 faktor ini Harus selalu tercantum dengan angka besar dan jelas dan harus dites di stu organisai penelitian independent dan di sertifikasi untuk melindungi konsumen.

Efficiensi AC sekarang bervariasi dari 200% s/d 350% produsen yg keluarkan ac dengan effisiensi paling besar adalah yg paling irit energi dan tidak lagi bisa diperdebatkan karena semua informasi telah tetuangan dalam angka ini.

Kapasitas menentukan ac bisa dipakai untuk ruangan sebesar apa dan bukan hanya tergantung dari besarnya ruangan tapi juga dari tingkat isolasi ruangan dinding plafon dan kendela dan pintu....dan berapa orang ada dlam ruangan dan berapa alat listrik digunakan.



 
 
 

Komentar 28 Oleh: dani

Sunday 8 Nov 2009 1:37am

soal perlunya suatu satuan standar tentang energi agar masyarakat umum dapat memaknai itu saya setuju sekali.

saya kutip dari tulisan di atas :
"Apa yang wajib tertera di semua peralatan yang mengkonsumsi energi adalah berapa kJ atau MJ ia mengkonsumsi tiap jam"
pertanyaan anda ini sama saja, energi yang dikonsumsi tiap jam itu ya watt, klo kj jadi kwatt klo mj jadi mwatt.

jadi saya tidak setuju dengan pernyataan anda "Watt menipu konsumen yang suka memperhatikan energi".
Karena kalau kita kasih joule saja, itu artianya jumlah energi tanpa batasan waktu, tapi kalau watt jumlah energi setiap detik.

Mungkin maksud anda adalah agar konsumen lebih memahami arti watt itu sendiri. Dan pada peraltan listrik mungkin harus di paparkan lama dia bekerja.

Maaf kalau boleh tau back ground anda apa ya?
 
 
 

Komentar 29 Oleh: enk

Sunday 8 Nov 2009 5:44am

Mengenai permasalahan penggunaan satuan semisal BTU itu adalah hak produsen alat, terkecuali telah ada standar dunia yang mewajibkan penggunaan standar tersebut pada setiap alat yang dibuat. Lagipula meskipun digunakan hanya satu standar semisal Joule masyarakat tetap saja masih bingung kok, kalau tidak mengerti betul apa itu Joule, tetap saja permasalahan disini bukanlah penggunaan standar, akan tetapi pencerdasan masyarakat.

Perlu diperhatikan bahwa pembuat AC tidak harus pusing dengan seberapa bagus isolasi ruangan yang akan ditempati AC buatannya, seberapa banyak orang yang masuk, seberapa besar sinar matahari dari luar, seberapa banyak lampu yang digunakan ataupun seberapa banyak peralatan yang mengemisikan kalor ke ruangan tersebut. Jika semua variabel tersebut digunakan dalam pembuatan produk sebuah AC, tentunya setiap ruangan untuk setiap keperluan akan memiliki AC yang berbeda beda dan bayangkan berapa banyak ruangan dengan kegunaan yang berbeda beda dan variabel yang berbeda beda di bumi ini???

Alangkah rumitnya produsen AC jika harus membuat sebuah AC dengan memperhatikan semua variabel yang mungkin. sehingga tentunya produsen AC cukup memperhatikan ketika suhu berubah maka dia harus bisa mempertahankan suhu sesuai dengan settingan yang diinginkan oleh pengguna. Tidak peduli dengan berapa banyak manusia di dalamnya, berapa banyak peralatan yang meng emisikan kalor dan lain sebagainya. Hal ini juga mengandung pengertian bahwa apakah konsumen akan mau ambil pusing dengan semua variabel yang terlibat sehingga dia bisa dengan yakin nya memilih kapasitas AC sekian Joule per jam??? saya rasa tidak. Penggunaan AC ya tergantung dari berapa kalor yang harus dia keluarkan, kalau memang besar ya tentunya energi yang dibutuhkan akan lebih besar dibandingkan dengan jumlah kalor dalam ruangan yang lebih sedikit. Konsumen harusnya sudah mengerti hal ini. Alangkah naifnya kalau kita menetapkan dengan begitu saja bahwa ruangan yang digunakan akan mengemisikan sekian kalor per jamnya.

Mengenai penggunaan inverter pada AC apakah anda tau alasannya kenapa konsumen bisa tertipu? apakah anda mengetahui dengan detail apa itu teknologi inverter pada sebuah AC? Jika anda tidak dapat menjelaskan penipuan yang ada, maaf, saya rasa janganlah menggunakan kata kata penipuan karena bisa-bisa dituntut oleh produsen AC.

Pada setiap produk yang baik terdapat manual atau cara kerja bagi para konsumen, dan disitu seharusnya dijelaskan mengenai cara kerja maupun segala hal yang berkaitan dengan kerja produk, sehingga konsumen haruslah 'mau' untuk membaca sebelum menggunakan produk yang dibelinya dan lebih baik lagi mencari tau produk yang akan dibelinya.

Saya agak heran kenapa juga harus menggunakan satuan Joule per jam? Bayangkan jika pada sebuah AC dengan kapasitas 100 Joule per jam nya, artinya adalah energi yang dibutuhkan dipukul rata untuk setiap jamnya padahal penggunaan ruangan untuk setiap saatnya berubah ubah. Sehingga pada kondisi ruangan tidak ada manusia tidak ada peralatan yang mengemisikan kalor seharusnya sebuah AC membutuhkan energi yang lebih sedikit dari biasanya. Hal ini mengandung pengertian AC dengan kapasitas 100J/jam adalah produk yang kurang baik karena boros energi meskipun kerja yang dilakukan tidak berat. Artinya bahwa konsumen justru akan semakin boros energi. Atau dengan teknologi AC yang ada sekarang ini dimana penggunaan energi pada AC adalah tergantung kerja yang dilakukan sehingga dengan menggunakan penulisan J/jam apakah itu artinya tidak menipu konsumen? karena faktanya tiap jamnya belum tentu sesuai dengan yang tercantum, misal 100J/jam.

salam
 
 
 

Komentar 30 Oleh: joy

Sunday 8 Nov 2009 3:32pm

Saya merasa tergelitik dengan artikel ini. Mungkin maksud ts di sini baik untuk meningkatkan awareness masyarakat akan konsumsi energi mereka. Namun satu hal yang saya tidak habis pikir mengapa malah mempermasalahkan watt dan joule, dua satuan yang digunakan untuk keperluan yang berbeda, yang saya rasa telah cukup banyak dijelaskan oleh rekan-rekan di atas dan tidak perlu lagi saya menambahkan.

Menurut saya kwh meter yang di pasang oleh PLN pun melakukan fungsi yang kurang lebih sama dengan apa yang anda sebut Joule counter, sama-sama menghitung konsumsi energi, hanya saja kwh menghitung untuk satu rumah dan Joule counter yang anda bicarakan menghitung per equipment yang mungkin dibutuhkan jika konsumen menginginkan detailnya. Jika memang anda inginkan menghitung konsumsi energi per equipment sebenarnya bisa saja anda pasang kwh meter untuk setiap equipment (no offence).

Yang saya kurang setuju adalah cara ts yang terlalu dini mengambil kesimpulan dengan menuduh produsen AC dan PLN melakukan penipuan ke konsumen dengan penjelasan2 yang menurut saya malah menyesatkan masyarakat awam yang tidak sepenuhnya paham definisi dari satuan watt dan joule itu sendiri.

Sedikit mengomentari mengenai perhitungan kemampuan menyedot panas sebuah AC, bahkan ts sendiri pun mengambil asumsi ketika melakukan perhitungan, yaitu jumlah panas yang dikeluarkan oleh badan kita, yang artinya produsen AC yang notabenenya memproduksi secara masal tidak mungkin menyajikan informasi ini (Joule/jam), karena nilainya akan sangat tergantung dengan aplikasi oleh konsumen, saya setuju dengan saudara dahono, malah akan menimbulkan kerancuan dan kebohongan publik...

Alangkah baiknya jika anda menyebutkan keunggulan2 produk anda dengan tidak menyinggung pihak2 lain, lebih-lebih lagi dengan menyebut "insiyur listrik pun masih buta energi..."

Salam
 
 
 

Komentar 31 Oleh: Maurice Adema

Tuesday 10 Nov 2009 12:47am

Kesalahan:

"Apa yang wajib tertera di semua peralatan yang mengkonsumsi energi adalah berapa kJ atau MJ ia mengkonsumsi tiap jam"
pertanyaan anda ini sama saja, energi yang dikonsumsi tiap jam itu ya watt, klo kj jadi kwatt klo mj jadi mwatt.

Koreksi:
Yang dikonsumsi per detik adalah watt ....Karena watt = Joule per detik
Kalau kJ itu bukan Kilowatt tetapi 1000 Joul

Mungkin anda akan lebih gampang mengerti dengan persamaan berikut:

Watt adalah kecepatan energi

Joule adalah energi

Watt bisa dibandingan dengan Kecepatan
Joule bisa dibandingkan dengan Jarak

TENTU Jarak dan Kecepatan adalah sesuatu yg berbeda; dan kita tidak pernah salah kapra karena dalam hal kecepatan kita tidak buat "Cover Up"

Misalnya mobil berjalan dengan kecepatan 100 km per jam; angin bertiup dengan 15 meter per detik

Yg satu itu per jam dan yang satunya lagi per detik dan kita tidak ketipu karena tercantum dalam perkataan.

LAIN dengan Watt.....orang tidak tahu itu energi per detik; dan untuk apa harus ada nama baru untuk satu ukuran "kecepatan energi" ?

Kenapa tidak bisa bilang 100 Joule per detik dan 1000 Joule per Jam dan 100ribu Joule per hari ....semua dengan sangat jelas kelihatan per satuan waktu apa.

WATT adalah bukan unit tetapi "KEDOK" yg menutupi kenyataan bahwa itu Joule per detik (Joule adalah unit energi dari metrik sistem; dan Detik juga)
 
 
 

Komentar 32 Oleh: Maurice Adema

Tuesday 10 Nov 2009 12:54am

Menyatakan AC yg 350 Watt adalah 50% lebih Hemat dari AC yang 700 Watt adalah jelas-jelas satu penipuan karena Watt adalah Joule per detik!

AC yg dinyatakan 350 Joule per detik misalnya bisa hidup terus mnerus selama 1 Jam (= 3600 detik) da akan konsumsi 1.260.000 Joule per jam (atau 1.26 MJ per Jam)

AC yg dinyatakan 700Joule per detik misalnya hidup 10 menit on dan 10 menit off jadi "duty cyclenya 50% dan berarti 1800 detik per Jam akan menyala.
1800 x 700 = 1.260.000 Joule per jam dan persis sama dengan jumlah dari AC yg dinyatakan 350 Watt.

Disitulah terjadi kebohongan! Masyarakat tidak mengerti bahwa Watt adalah Joule per detik dan pikirnya Watt adalah yg di bayar atau kilowattnya tetapi yg dibayar adalah KiloWattxhour dan hampir semua orang salah mengerti kWh karena pikir kWh adalah Kilowatt per hour. dan bukan kilowatt kali Hour.

1 KWH = 3.6 MJ


 
 
 

Komentar 33 Oleh: enk

Tuesday 10 Nov 2009 12:15pm

Dear TS,

Sekali lagi hendaknya jika ingin membandingkan sesuatu itu ya harus apple to apple, masa AC yang 350W dengan penyalaan yang setiap saat dibandingkan dengan AC 700W dengan penyalaan 50% nya? ya tentu saja hasil energinya akan sama, semua orang tahu itu. apakah anda pernah melakukan survey mengenai apa itu definisi kWh pada orang orang yang menganggap kiloWatt per hour? jika ada mohon dicantumkan hasil survey anda.karena anda menyebutkan 'hampir semua orang' bayangkan berapa banyak jumlah manusia di bumi ini, atau setidaknya di indonesia yang telah memasuki jenjang sekolah hingga SMA dan tidak mengetahui bahwa kWh itu adalah kilowatthour? dan saya agak tertelitik dengan pernyataan anda, bahwa WATT bukanlah unit, melainkan kedok...(no offense), dan anda pun menyatakan bahwa 'orang tidak tahu bahwa WATT itu adalah joule per detik', sekali lagi apakah anda pernah melakukan survey mengenai hal ini? jika memang ada mohon dicantumkan agar pemerintah dan juga PLN setidaknya bisa mengetahui bahwa masyarakat memang butuh penyuluhan.

salam.
 
 
 

Komentar 34 Oleh: Maurice Adema

Wednesday 11 Nov 2009 7:03pm

Justru itu yang kita inginkan....melakukan comparisson of APPLEs to APPLEs dan justru dengan WATT itu tidak bisa!

Justru sekarang konsumen dengan sangat mudah tertipu dengan AC yg saya beri contoh diatas.

Contoh diatas adalah AC yg 700W dibandingkan dengan AC yg 350W (mungkin anda pernah lihat iklannya dan disitu di claim 50% energi saving) untuk ac yg berukuran 1/2 PK.

Itu adalah satu "kebohongan" besar karena sistem AC-nya berbeda; yg AC 350W mengunakan sistem inverter dan compressornya menyala terus menerus jadi Duty Cycle adalah 100% dan karena itu akan makan energi 350 J/s x 3600 seconds per jam = 1.260.000 Joule per Jam.

AC yg sistem biasa akan mati hidup compressornya; misalnya suhu distel 25 deg maka ACakan mati di kira2 24 atau 23Deg dan hidup kembali apabila suhu telah naik ke 25 deg lagi. Demikian dalam satu jam tidak setiap detik compressornya hidup dan dalam contoh saya beri duty cycle 50% (artinya dalam 1 Jam atau 3600 detik compressornya hidup selama 1800 detik dan karena itu energi yang "di makan" adalah 700 j/s x 1800 detik per jam = 1.260.000 Joule per Jam.

Jadi unit yg 350 Watt dan unit yg 700 Watt bisa punyakonsumsi energi per jam yang sama....padahal konsumen di tonjolkan anka 350 Watt akan berpikir ....yah itu separuhnya dari 700 Watt jadi lebih hemat.....ehhh ketipu! Ketipu karena watt adalh info yg tidak lengkap!

Kalau anda di toko alat electronic silahkan cari satu kulkas Toshiba....di pintu tercantum "super hemat" hanya 23 watt dan kalau lihat di label di belakang tecantum 55 Watt.....yg mana yg betul? Tanya orang yg jual....dia tidak bias jawab! (yang saya kira yg 55 J/detik adalah energi yg di makan compressornya saat hidup dan saat mati dia makan 0 J/s. Kemungkinan 23Watt itu adalah consumsi rata2 tapi itu hanya asumsi karena tidak tertulis dimanapun di informasi di poduknya. dengan asumsi 23 J/s itu adalah rata-rata maka duty cycle adalah 23/ 55 = 42 % jadi dalam satu jam rata-ratu 1500 detik compressornya hidup dan saat hidup konsumsinya 55 J/s jadi 82.500 Joule per jam. .......>>>rata2 per detik jadi 82500/3600 = 23 Joule per detik...

Karena untuk konsumen sangat sulit mengasumsi dand menghitung hal2 ini akn jauh lebih baik kalau dia dapat info daam bentuk MJ per hari.

Misalnya kulkas "makan" listrik sebanyak 1,5 MJ per hari dan kalau konsumen juga tahu bahwa 1 MJ harganya Rp 200 maka dengan mudah dia bisa hitung onkos enrginya per hari (1.5 x 200 = Rp 300 per hari)

Survey:
Kami tidak melakukan survey independent dan saya berharap instansi yg indepent bisa melakukan hal ini. Kesimpulan kita datang dari 20 tahun experience menjual sistem energi surya. Untuk sistem energi surya yang terbatas adalah energinya (terukur dalam Joule; atau untuk anda mungkin masih kWh) dan bukan kecepatan energinya "dimakan" atau "dipanen" (terukur dalam Joule per detik Joule per Jam atau joule per hari....untuk anda masih Watt)

Dalam sistem energi surya ada 3 componen sbb:

1) Alat panen energi (solar panel) (sesuai tradisi diukur dengan Watt-peak "Wp")
2) Alat penyimpan energi (battery) (sesuai tradisi diukur dalam Ampere-hour "Ah")
3) Alat pemakaian energi (Lampu dsb) (sesuai tradisi di-ukur dalam J/s "Watt")

Jadi hasil energi dalam Wp; simpan dalam Ah dan ambil dalam W........TOTALLY CONFUSING RIGHT !!!! ....atau anda mungkin mengerti???

Selama 20 tahun kita ikuti dunia listrik tradisional dan konversikan Wp ke Watt-Hour/ hari dan Batterai ke Wh juga dan untuk beban tetap kita gunakan Watt.

Anda mencoba sendiri aja jelaskan keteman-teman bapak bagaimana bisa mengunakan solar panel untuk kebutuhan listrik.

Solar panel dengan ukuran 1 meter persegi punya kapasitas energy misalnya 500 Watt-jam per hari.

Hal ini anda akan cerita ke calon konsumen:

Konsumen akan menangkap : Ohh....500 Watt per jam (95 dari 100 kasus)

Anda: Bukan 500 watt per jam tapi 500 Watt jam per hari

Konsumen: Ohhh... 500 watt per jam per hari (dalam pikiranya ....gimana sih per jam atau per hari....si salesman ini aneh...)

Anda: Bukaaaaann.....500 Watt per Jam per hari .....ehhh 500 Watt jam per hari ....Watt-jam perhari per-jam eehhh watt per jam per hari...

Konsumen: Kabur dan tetap tidak mengerti....dan tentu tidak akan beli solar system....yg sebenarnya aka bermanfaat untuk dia kalau mengerti.

Kita sekarang jelaskan produk dengan sangat muda misalnya:

Batterai dapat menyimpan 60 kJ
Lampu konsumsi 10kJ per jam
Berapa Jam bisa mengunakan lampu......petani dengn mudah dapat menjawab...

Kita jelaskan ke seorang professor fisika:
Batterai dapat menyimpan 2000mAh
Lampu konsumsi 5 Watt
Berapa Jam bisa mengunakan lampu......Professor harus hitung-hitung dan tidak bisa jawab......sebelum dapat info tambahan mengenai berapa volt si batterai itu.

WATT itu hanya KEDOK:
Yah sangat betul karena tidak ada gunanya Watt; Watt mengakibatkan banyak kesalahan dalam hitungan di tahap engineering pun juga. Itu pengalaman saya sendiri sebagai chief designer dari produk yg hemat energi.

Bukalah kedok nya Watt dan buanglah kedok itu.... Dan mulai mengunakan Joule per detik.....tapi konsumen tidak mau tahu Joule per detik....untuk konsumen lebih berguna Joule per Jam dan Joule per hari (atau Joule per menit....yang penting sekarang suda terbuka apakah per detik, menit jam atau hari) Tergantung tipe alat-nya. Kulkas yg ter-colok listrik 24 jam per hari sebaiknya di beri info berapa Joule per hari. Lampu yg dipakai berbasis jam-an sebaiknya di beri info berapa Joule per Jam dst.....microwave oven bisa diberi info berapa Joule per menit karena umumnya dipakai hanya antara 2 s/d 10 menit.

Di akhir bulan yg konsumen bayar ke PLN adalah jumlah Joule dan bukan Watt.

Menghapus Kebutaan Energi Dunia:
Pemerintahan Dunia tidak punya kepentingan untuk menghapus kebutaan energi karena justru pemerintahan keliling dunia mengunakan energi sebagai alat kekuasaan (dengan masyarakat yg menjadi pintar energi; energi sudah susah menjadi alat kekuasaannya). Melalui subsidi makanan(energi) subsidi bahan bakar(energi) dan subsidi listrik(energi); pemerintahan dunia kendalikan kekuasaan dan membuat sektor2 energi di-monopoli dan tidak bertumbuh secara sehat don kompetitif. Subsidi energi dipakai untuk Menjaja ekonomi. Amerika, Europa, Jepang mensubsidi petani mereka besar-besaran dan bahan bersubsidi masuk ke pasaran negara2 seperti Indonesia membuat petani di negara tsb akan miskin dan tidak punya "buying power" dan karena tidak punya buying power; "resources" yang dulunya sangat berlimpahan di Indonesia akan di-export (tersedot) dengan harga sangat murah karena buying power lokal tidak ada.....dan negara akan makin miskin karena valuable resources akan ditukar dengan uang yg sebenarnya tidak ada nilai real nya...silahkan membaca artikel "Polinomics" http://www.kajul.org/EnergyBlogID.php?Art=24

Untuk mengarah ke dunia yang lebih adil; adalah sangat penting untuk kebutaan energi dihapus dulu....Kita tidak perlu malu-malu untuk mengakui bahwa kita buta energi; saya sendiri sebelum mulai mengunakan Joule sebagai unit pengukur mengaku bahwa saya sebelumnya juga buta-energi walaupun sudah 18 tahun bergeak di bidag energi. Walupun saya tahu Watt dan Wh dan kWh dsb.

Saya harap bapak bisa membaca "polinomics" dulu dan berkomentaar lagi,

Thx














 
 
 

Komentar 35 Oleh: dani

Wednesday 11 Nov 2009 11:58pm

Kalau begitu yang di perlu diperbaiki adalah pemahamannya, bukan berarti satua watt harus dihapuskan.

Tidak masalah watt diganti dengan joule per sekon, toh aritnya tetap sama. Tapi apakah jika watt diganti menjadi joule per sekon masyarakat akan mengerti? saya pikir tidak juga. Masyarakat pun tidak akan mengetahui apa itu arti satu joule per sekon, bahkan arti satu joule pun mereka tidak memiliki gambaran.

Jadi saya pikir masalahnya bukan disatuannya, tapi di pemahaman akan satuannya tersebut.

justru dengan satuan wall masyarakat akan dengan lebih mudah membandingkan mana peralatan yang memakai energi besar dan tidak (dengan membandingkan angkanya). Tentu hal ini harus dibarengi dengan membandingkan lama peralatan tersebut bekerja, karena watt berada dalam domain waktu.

 
 
 

Komentar 36 Oleh: Maurice Adema

Thursday 12 Nov 2009 10:52pm

Betul sekali Watt berada dalam domain waktu....demikian juga Kecepatan; misalnya kilometer per jam, meter per detik dsb....tetapi perbedaanya adalah Watt adalah kedok....yg menutupi fakta bahwa Watt berada dlam domain waktu.

Malahan orang berpikir bahwa kilowatt-hour berada dalam domain waktu dan disitu terjadi kesalahanya...dalam unit kilowatt-hour unit hour itu muncul untuk menghapuskan waktu


Watt = J/s dan kWh = 1.000 x J/s x 3600 s = 3.600.000 Joule

Jadi Watt-hour atau kWh tidak ada hubungan dengan waktu dan Watt malahan ada dan hampir semua orang salah mengerti itu....nah karena itu watt harus dibuang karena memang tidak ada gunanya....

Yang anda bayar ke PLN adalah jumlah JOULE dan bukan jumlah WATT;

Anda usulkan untuk memperbaiki kepahamannya dari Watt dan kWh.....

Kita sudah selama 20 tahun berusaha menjelaskan konsumen mengenai Wh dan kWh dan tetapdengan segala cara tidak berhasil....jadi kita menyerah.... dan sesudah kita mulai mengunakan Joule dangan sangat muda konsumen bisa menanggap hitungan energinya....Munkin kalau anda menceritakan cerita Joule ke saya 20 tahun lalu saya jugatida percaya bahwa itu ide bagus....tapi karena dari pengalaman pahitnya saya sendiri sudah berusaha menjelaskan konsumen mengenai watt dan Wh....tetap tidak berhasil....dan dgn Joule sangat mudah hasil tercapai.....

Saya sangat panasaran apa yg memberatkan bapak untuk melepaskan Watt; kenapa tidak berani di buang unit penipu itu yang sudah selama 100 tahun lebih mengakibatkan kita jadi buta energi. Saya ulangkan lagi WATT adalah kedok yg harus dilepas...sesudah lepas kita tahu defenisi sebenarnya dan itu Joule per detik....tapi konsumen didak tertarik mengetahui Joule per detik (degan kata lain Watt juga tidak penting)....untuk dia lebih penting mengetahui berapa Joule per Jam atau per hari.....kan Joule yang dibayar! BUKAN WATT.

Dan bukan hanya listrik....semua energi lainya juga dapat diukur dengan Joule....Apakah anda tahu ? Satu liter "Solar"(Diesel) isi energinya 38.7 MJ per liter; dan 1 liter bio-fuel hanya berisi 20.5 MJ per liter; jadi isi energinya hampir 50% lebih rendah.....dan justu energinya yg dibutuhka bukan liternya.....demikian ada puluhan contoh kitasetiap hari dibohongi karenakita tidak terbiasa mengunakan unit penukur standar energi ...YAITU JOULE.... Dengan kita mengenal Joule kita bisa membuat keputusan yg benar ....tetapi tentu hanya kaau semua jenis energi dispecifikasikan dalam Joule.

Anda tahukan semua alat seperti radio, Tv, dan electronic lainnya temasuk AC, strikaan dan kulkas, rice-cooker dsb semuanya tidak punya pemakaian energi yg stabil....strikaan misalnya punya termostat...saat strikaan tidak dipakai suhu akan naik terus dan di titik tertentu termostat akan mematikan heaternya dan di suhu tertentu akan hidup lagi....demikian juga rice cooker, kulkas, AC dan untuk electronic lain seperti TV setiap detik konsumsi energi bisa berbeda....jadi untuk apa mengetahui berapa J/s alat itu "makan". Yang harus diketahui beapa Joule per Jam....BUKAN PER DETIK

Atau harus mencantumkan berapa kWh per h ....silahkan anda mencoba jelaskan ke konsumen bahwa kulkas mengunakan 0.3 kilowatt-jam per jam....(apa itu jam per jam.....)

dan mengapa tidak buat tambah confussing dengan tambah unit Kilowatt-hari dan kilowatt-bulan dan kilowatt-tahun.....

Logika tidak ada untuk kreasikan nama baru untuk Joule per detik dan kemudian dikalikan dengan jam.....sangat tidak logis dan sangat membingungkan....

Mungkin watt itu adalah trick business lebih dari seratus tahun lalu untuk membingungkan konsumen; dan jaman sekarang manusia seharusnya sudah menjadi lebih pintar dan seharusnya bisa melihat dan mengakui bahwa kita telah di bodohin sama Watt 100 tahun lebih.....jadi sudah pantas membuang unit itu.


 
 
 

Komentar 37 Oleh: joy

Thursday 12 Nov 2009 11:05pm

Totally agree dengan pernyataan ts jika Joule/jam akan lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam dibandingkan dengan watt (secara logika sangat bisa diterima, praktisnya mungkin ts yang lebih tau karena punya 20th experience... no offense). Tetapi saya tetap tidak setuju jika kebutaan energi yang terjadi semata-mata hanya karena selama ini satuan yang digunakan adalah watt. Selain itu perhitungan2 yang dilakukan ts semuanya menggunakan asumsi-asumsi untuk mendapatkan nilai Joule/jam. Yang artinya nilai yang didapatkan akan benar jika asumsi yang dilakukan terjadi. Kembali ke pernyataan saya sebelumnya apakah mungkin pabrikan yang memproduksi secara masal untuk konsumen, melabeli produknya dengan Joule/jam.

Mungkin hal ini hanya bisa dilakukan jika konsumen sendirilah yang menghitung atau di equipmentnya dipasangi pengukur konsumsi energi (whatever... mau dalam Joule atau kwh, mau pake Joule counter atau kwh meter juga ga masalah, menurut saya mau pake yang mana saja asal bisa memudahkan kenapa tidak)

Kok jadinya saya lihat ada kepentingan bisnis di sini dengan mendengungkan Joule/jam dan mempersalahkan Watt.
note: saya bukan pegawai PLN, bukan juga produsen AC, saya hanya masyarakat umum yang ikutan-ikutan berpikir ttg konspirasi... (sekali lagi no offense)

Tetapi saya tetap salut dengan ts yang setidaknya mau peduli akan kebutaan energi yang dialami oleh masyarakat dan mencoba melakukan langkah nyata untuk memecahkannya. Sekali lagi alangkah baiknya jika anda menyebutkan keunggulan produk anda tanpa menyinggung pihak-pihak lain.

Regard
 
 
 

Komentar 38 Oleh: Maurice Adema

Thursday 12 Nov 2009 11:07pm

saya kutip dari tulisan di atas :
"Masyarakat pun tidak akan mengetahui apa itu arti satu joule per sekon, bahkan arti satu joule pun mereka tidak memiliki gambaran."

Betul sekali masyarakat tidak akan mengerti Joule per sekon...dan tidak tahu guna-nya....Itulah alasan mengapa WATT tidak ada gunanya....

Masyarakat punya kepentingan untuk mengetahui harga listrik.... Misalnya Rp 200 per MJ

Ibu rumah tangga yg ingin beli kulkas; ingin beli kulkas yg irit dan pengen tahu berapa onkos listriknya untuk menghidupken kulkasnya.

Di toko misalnya terdapat 2 tipe...yg satu "makan" 2 MJ per hari dan satu lagi "makan" 5 MJ per hari......dangan sanagt mudah si ibu rumah tangga dapat menghitung bahwa yg 3 MJ per hari akan makan biaya 3 x Rp 200 = Rp 600 per hari dan yg 5MJ akan makan biaya listrik 5 x Rp 200 = Rp 1000 per hari.

Lampu pun bisa diberi info dengan Joule...

Miaslnya lampu yg 500 Lumen merek A dapat menyala selama 5 Jam per MJ dan lampu merek B dengan keluaran cahaya 500 Lumen dapat menyala 8 Jam per MJ......

Yah dengan mudah bisa berkesimpulan bahwa untuk cahaya yg sama (500 Lumen = 500 Lumen) yg merek A hanya 5 Jam dan merek B bisa menyala selama 8 Jam per MJ listrik.....lebih irit merek B dong...

Dan Juga dengan mudah kita bisa sadar bahwa yg merek A makan biaya Rp 200 per 5 Jam dan merek B Rp 200 per 8 jam.....

I hope you start to get the point now....

 
 
 

Komentar 39 Oleh: agung wibowo

Monday 16 Nov 2009 6:14pm

sangat - sangat menarik membaca semua artikel dari awal sampai dengan komentar - komentar sesudahnya.
satu hal yang pasti adalah boleh - boleh saja kita menetapkan satuan energi yang digunakan oleh semua masyarakat, baik dari sisi ketenagaistrikan, minyak, gas, panas bumi, energi matahari, dan sebagainya.
namun perlu diingat ketika Joule digunakan sebagai standar baku yang akan digunakan oleh masyarakat maka perlu kiranya bagi rekan2 yang pandai dibidangnya untuk membuat konstanta pembanding.
kita ambil contoh pada KWh
di awal telah disebutkan bahwa 1 Joule adalah 1 watt dalam 1 detik
sehingga:
1 watt = 1 Joule/detik
1 KWh = 1000*1 watt*3600 detik
= 3,6 M watt.detik
= 3,6 MJoule

sehingga di masa yang akan datang masyarakat mengetahui konstanta pembanding 1 KWh ke 1 Joule yaitu 3,6 Juta
konstanta pembanding lain yang tidak kalah penting (menurut saya) adalah Rp (rupiah), mata uang kita, bagaimana tidak? Setahu saya masyarakat yang akan membeli energi baik itu peralatan listrik (lampu, kompor listrik, lemari es, ac, termasuk pembayaran listrik ke PLN), LPG, BBM, dan sebagainya biasanya tidak akan mempermasalahkan apakah peralatan listrik yang akan digunakan membutuhkan energi 4, 5, maupun ratusan MJ/jam, namun yang biasanya diperhatikan adalah kira2 nanti saya membayar tagihan listrik berapa ratus ribu/bulan?, kalau kita melakukan perjalanan dengan mobil maupun motor, biasanya yang menjadi dasar pemikiran masyarakat adalah, berapa rupiah yang akan kita keluarkan dalam membeli BBM.

sepertinya dalam jangka waktu beberapa tahun kedepan, masyarakat awam di sekeliling kita masih tetap memperhatikan satuan nasional yaitu rupiah dibandingkan dengan Joule.
sehingga perlu kiranya bagi kita untuk membuat juga konstanta pembanding ke dalam rupiah.
sebagai contoh:
1 KWh = Rp 650,00 (harga jual energi listrik untuk pelanggan rumah tangga P1)
3,6 MJoule = Rp 650,00
1 MJoule = Rp 185,55
1 Joule = Rp 1,85e-04

demikian terima kasih
mohon maaf bila ada kata2 yang salah maupun menyinggung pihak lain
mohon koreksinya

 
 
 

Komentar 40 Oleh: Orang Bodoh

Wednesday 25 Nov 2009 11:36am

Ini ARTIKEL BODOH yang membuat orang yang baca jadi bodoh yaa?
Kok saya perhatikan komentarnya bolak-balik kesana kesini aja..
Komentar dari penulis juga kalo dibaca bener2 bisa membuat orang jadi bodoh juga..

Penyataan penulis yang membuat saya menjadi bodoh :
1. Kalau saya katakan pagi ini saya sarapan 5kJ (kiloJoule) makanan, pasti Anda terbingung-bingung dengan pernyataan itu. Anda mungkin tidak mempunyai gambaran apakah jumlah tersebut banyak atau sedikit.
・・・・・Penulis sendiri bilang kalo cuma gambaran sarapan 5kJ aja susah untuk diketahui apakah jumlah tersebut banyak atau sedikit. Tapi pada kalimat berikutnya solusinya malah : Satuan yang paling tepat untuk pengukuran energi adalah Joule, (pernyataannya juga rancu!! Joule itu memang satuan Energi, gk bisa dibandingin dengan Watt yang satuan Daya!)
・・・・ Kalo saya sih sarapan 1Kj aja sudah kenyang, jadi saya bilang 5 kJ itu banyak. Gitu aja kok repot?

2. Kita asumsikan lemari es 70W mempunyai kompresor yang menyala 3.000 detik per jam, berarti lemari es itu mengkonsumsi 70 x 3000 x 24 = 5.040.000 Joule per hari ( = 5 MJ per hari). Nah, bisa saja lemari es 100W menggunakan sebuah kompresor yang lebih efisien, dimana ia hanya menyala selama 1.000 detik per jam, berarti lemari es ini hanya mengkonsumsi 100 x 1000 x 24 = 2.400.000 Joule per hari ( = 2,4 MJ per hari).
・・・・・Peryataan ini tambah membodohi lagi..
Nahh Kalo sekarang saya punya lemari es 70W menggunakan kompresor selama 1000 detik perjam,, Coba wahai penulis kamu akan beli lemari es yang mana?? JADI KESIMPULANNYA kalo membandingkan alat listrik yang bekerja dengan kualitas yang sama, jelas bahwa yang wattnya kecil yang lebih hemat.

3. Sebenarnya banyak orang dalam bidang energi pun mengalami Buta Energi karena mereka tidak pernah melihat di luar lingkup bidang industrinya.
・・・・Hwahhh para pakar bidang energi pun disalahin (pakar bidang energi disini pakar bidang energi dunia loh kalo saya asumsikan), dan saya juga gk yakin kalo para pakar2 itu buta energi. Karena saya yang orang bodoh ini aja tau kok bedanya Joule sama Watt, Dan Watt gk sama dengan joule, gak sama dengan Mtoe, gak sama dengan Ah, dan semuanya gk sama dengan barel, metrik ton, dll. (Ini ngasih contoh satuan aja udah ngalur ngidul kesana kemari udah menyalahkan para pakar aja)
・・・・Kalau mau tau alasan kenapa wind power gk make wind-watt-peak, atau kenapa PV make Wattpeak? seharusnya belajar dulu tentang wind turbin dan PV sebelum menyatakan ke orang banyak kalau ini aneh!! Sudahkah anda belajar tentang itu sebelum menulis artikel ini wahai Penulis yang terhormat..

Saran saya sihh tulisan ini ditutup/dihapus aja karena benar2 membuat orang menjadi BODOH..

Dengan membaca tulisan penulis ini,
1. Saya jadi SANGAT SETUJU kalau MASYARAKAT INDONESIA MEMANG SANGAT BUTA ENERGI,,
2. Perusahaan yang mencantumkan Joule/Jam malah merupakan perusahaan yang melakukan kebohongan publik. Saya berani membuktikan pernyataan saya ini.
3. Perlu diperhatikan dan dipahami baik2, dengan menyatakan WATT adalah bukan satuan daya (unit) tetapi "KEDOK", berarti anda telah mengatakan kalo seluruh engineer elektro di seluruh dunia telah salah selama ini. Atau perlu saya translate artikel ini ke bahasa Jepang untuk menyadarkan penulis kalo ini salah?
4. Janganlah memperkeruh suasana krisis kodisi kelistrikan negara kita ini dengan menyebar isu2 yang seperti ini.

DENGAN SANGAT HORMAT SAYA MINTA TULISAN DI ARTIKEL INI UNTUK SEGERA DI TUTUP YAA WAHAI PENULIS YANG TERHORMAT. ^_^

Salam,

Kadokura
 
 
 

Komentar 41 Oleh: joko

Wednesday 16 Dec 2009 9:05am

Maaf saya ikut nimbrung. Saya bukan insinyur listrik seperti anda-anda semua yang sangat jago-jago berteori. Saya cuma teknisi biasa saja. Saya tidak terlalu memusingkan teori-teori seperti ini yang sudah menuai perdebatan panjang diatas. Mau tetap pakai watt atau joule ya monggo. Tapi berdasarkan pengalaman saya selama belasan tahun bekerja di bidang listrik (pekerjaan saya), saya selalu mengamati equiment listrik dengan melihat output capasity dibanding power consumptionya. Kemudian apa yang tertera di nameplate selalu kami uji di lapangan sehingga kami tidak pernah merasa tertipu dengan satuan watt.

Contoh, berbicara lampu misalnya, berapa ratio lumen dibagi wattnya dan kalau mau mengukur lux lampu, kan ada lux meter, kan? Jadi kita tidak tertipu kalau hanya melihat dan berpatokan pada watt-nya saja. Kedua, berbicara AC bukankah akan lebih bijaksana disamping melihat wattnya juga melihat output BTU/h-nya berapa, arusnya berapa ampere, selain wattnya sendiri? Dan dalam praktek kalau mau cari AC yang hemat energi, maka AC dengan sistem Chiller lah yang terbukti lebih hemat dibanding split atau jenis yang lainnya.

Jadi yang perlu digarisbawahi disini adalah bukan satuannya yang salah, tapi mindset yang memandang sebuah equipment hanya dari wattnya saja itu yang keliru. Saya yakin kalau semua orang cara pandangnya sudah diubah seperti ini, kita tidak akan pernah tertipu lagi.


 
 
 

Komentar 42 Oleh: wiwidkita

Wednesday 27 Jan 2010 5:32pm

 
 
 

Komentar 43 Oleh: orang simple

Sunday 7 Feb 2010 7:31pm

Semua bagus dan very interesting

Pertanyaan saya, bagaimana cara MENGHADAPI/MEMBACA LABEL alat-alat elektronik yang tercantum pada umumnya sehingga dapat mudah membandingkan yang lebih irit pemakaian Rp. nya. secara SEDERHANA.

Thx
 
 
 

Komentar 44 Oleh: botol

Wednesday 10 Feb 2010 2:21pm

saya setuju dgn pendapat mas kajul. jika tau berapa energi yang dikonsumsi untuk tiap alat listrik maka untuk perhitungan berapa yang kita bayar per bulannya akan lebih mudah.

dan untuk komentar mas Orang Bodoh sepertinya kurang tepat lo...
klo saya milih alat listrik dari hasilnya bukan wattnya,
misal lampu pijar dan lampu neon, walau wattnya sama tapi lebih terang neon kan?
trus buat lemari es, kecepatan pendinginan akan berbeda jika wattnya beda.
yang 100w pasti akan lebih cepat dingin atau bisa dimisalkan, 100w bisa mendinginkan sampai -10 derajat C
sedangkan yang 70w mungkin juga bisa sampai -10 derajat tapi dengan waktu pendinginan yang lebih lama.
makanya hasil konsumsi energi akhirnya jadi lebih besar.
dan kalau waktu pendinginannya disamakan antara 100w dan 70w, bisa2 yang pake kulkas 70w es-nya ga bisa beku dunk...
mungkin seperti itu sih, saya juga ndak terlalu mudeng...hehe:)

ya intinya klo lebih mudah dikonversi ke berapa yang harus dibayar per hari atau per bulan akan lebih enak.
jadi bisa lebih berhemat... hehe:)

btw.tolong yang lebih ahli menanggapi yak thanks
 
 
 

Komentar 45 Oleh: Orang Awam

Monday 30 Aug 2010 9:54pm

Lumayan lah saya dapat tambahan informasi,
Ga Sengaja saya melihat artikel ini,

saya saat ini lagi mencari kos, dan di kos an tersebut saya di harus kan membayar Rp1300 untuk 1kwh,

salah satu peralatan yang saya bawa adalah komputer dengan power supply pure 500W (di klaim produsen nya)
saya jadi ragu masuk kos tersebut kalo harus bayar 156.000 per bulan untuk untuk pemakaian listik komputer saya yang nyala rata2x 8Jam sedangkan saya di kos lama cuma bayar 100rb unruk pemakaian komputer, sedangkan kipas angin tv, tame free of charge.

hitungan yang saya dapat dari searching = 500/1000x Rp. 1300 = Rp 650/Jam
Rp650x8 jam x 30 Hari = Rp 156.000

yang jelas pemahaman saya sedikit terbuka,
kalo ada alat yang bisa mengukur pemakaian komputer saya saat full load per jam atau stanby per jam apa nama nya? apa bisa kasih info
tidak perlu di di tulis di sini kalo kesan nya promosi, di email saja.
terimakasih

 
 
   

Tambahkan komentar Anda

Komentar 46

Oleh:
  Email*:
* dibutuhkan, tapi tidak diperlihatkan
   
Ketik kata yang terlihat di sebelah ini

 
Bagaimana Anda sampai mengetahui situs ini?
Search engine   Rekan   Berita/blog   Seminar  Buku/majalah   Iklan   Lain-lain
       

   

Tambahkan blog ini ke Technorati Favorites saya