| |
Apa itu kebutaan energi?
Coba Anda bayangkan seseorang
dengan tinggi badan 2,5 meter dan berat badan 40 kilogram. Pasti Anda dapat
membayangkan bentuk badan orangnya seperti apa, bukan? Demikian juga orang
dengan tinggi badan 1,2 meter dan barat badan 200 kilogram Anda juga pasti
dapat membayangkan seperti apa bentuk badannya. Apa artinya? Ini artinya
masyarakat tidak “buta jarak” dan tidak “buta berat”. Lain halnya dengan
urusan energi. Kita bisa menyatakan bahwa hampir seluruh masyarakat Indonesia,
bahkan seluruh dunia mengalami “buta energi”. (kembali)
Mengapa masyarakat mengalami
Buta Energi?
Karena di dunia energi, kalau orang bicara soal energi,
tidak pernah menggunakan unit pengukur energi yang semestinya. Sebab
itulah masyarakat tidak dapat membandingkan energi listrik dengan energi
lain yang berasal dari BBM, seperti minyak tanah dan sebagainya, padahal
semuanya adalah energi yang dapat diukur jumlahnya dengan unit Joule. (kembali)
Mengapa
kebutaan energi menjadi masalah?
Karena dengan adanya masyarakat yang
masih buta energi, kita tidak bisa membuka mata terhadap energi “alternatif“ yang
sebenarnya sangat berlimpahan di negeri kita. Bahkan segala solusi kebijakan
bertujuan mengatasi masalah Krisis Energi selama ini menjadi tidak tepat
sasaran. Juga kita belum dapat membuat keputusan yang benar dalam hal
memilih alat-alat konsumsi energi, seperti alat-alat listrik, alat masak,
bahkan mobil. Kesadaran energi masyarakat belum dapat dibangun bila unit
pengukur energi belum dikenal oleh mereka.
Inilah tujuan program edukasi
Energi ini, supaya masyarakat kita menjadi masyarakat yang Sadar Energi,
serta dapat melihat sendiri dan ikut berpartisipasi dalam solusi energi
yang paling tepat untuk masa depan yang tidak membahayakan manusia maupun
berdampak negatif terhadap lingkungan. (kembali)
Apa satuan energi yang benar?
Di dunia energi sudah sangat banyak
unit energi terdefinisikan tetapi seperti Anda mungkin mengetahui ada
satu standar dunia yang dinamakan "metric
system" atau sistem metrik, dan
disitu unit seperti meter, gram telah distandardisasi; dan untuk semua
jenis energi Joule telah menjadi satu "rantai" dengan gram, meter,
dsb.
Alternatif untuk Joule adalah Kalori dan BTU tetapi unit tersebut adalah
bukan bagian dari sistem metrik tapi bagian dari British standard.
Indonesia adalah satu negara yang mengikuti Metric Standard maka pengunaan
Joule adalah paling tepat dan bahkan sudah diadaptasi di SNI. (kembali)
Bagaimana
memberantas kebutaan energi?
Sederhana saja! Dengan cara mensosialisasikan
unit pengukur energi yang standar. Menjadikan Joule sebagai standar
untuk semua jenis energi akan menghapus kebutaan kita terhadap energi.
Alasan kita tidak buta jarak dan tidak buta berat dikarenakan kita selalu mengunakan
unit pengukur yang sama. Untuk menimbang apel, singkong atau ayam
selalu pakai kilogram. Untuk mengukur tinggi badan, panjang meja atau
panjang bahan baju selalu mengunakan meter atau sentimeter dan semua
orang bisa membayangkan 1 meter kira2 sepanjang apa.
Hal yang sama akan terjadi kalau semua energi diukur dalam Joule (kiloJoule atau
MegaJoule). (kilo = seribu; Mega = sejuta)
Kalau kita selalu dengar Joule untuk setiap urusan energi kita mulai membangun
sebuah "Database" didalam "memory" kita. Setiap kali kita mendengar angka baru
kita langsung bisa menempatkan posisinya dalam database di benak kita
dan menilai apakah angkanya besar atau kecil. Kalau misalnya konsumsi energi semua
mobil teknologi BBM selama ini yang kita kenal adalah antara 3MJ dan
10MJ per km, lalu ada satu mobil baru yang menyatakan hanya mengkonsumsi
0,3 MJ per km; langsung kita bisa menilai bahwa itu memang lebih irit sekali
dibandingkan produk yang selama ini kita kenal.
Mobil bermesin bahan bakar yang beredar di pasaran mengkonsumsi antara 3 s/d
10MJ per km, Mobil berteknologi mesin listrik konsumsi energinya
adalah antara 0,3 s/d 0,5MJ per km. Kalau mendengar mobil listrik hanya
mengkonsumsi 0,3MJ per km langsung mata kita terbuka lebar.....kok
jauh sekali bedanya?! Memang mobil listrik adalah 10 hingga 20 kali
lebih irit energi dibandingkan mobil BBM.
Hanya kalau kita mengenal unit energi kita bisa membanding-bandingkan....dan
kalau kita sudah bisa menilai dan membandingkan artinya kita sudah tidak lagi
buta energi.....
Jadi tidak ada cara lain untuk memberantas kebutaan energi daripada menstandardisasikan
unitnya dulu!
Kalau sudah tidak buta energi lagi dan kita sadar mengenai biaya energi per MJ;
kita bisa menyimpulkan kalau harga satu MJ listrik misalnya Rp 200
dan 1 MJ BBM juga Rp 200; bahwa menjalankan mobil listrik akan 10 sampai
20 kali lebih murah.
Nah, langsung solusi energi untuk ke depan jadi kelihatan, bukan? Solusinya adalah
listrik, dan listrik itu harus dibangkitkan dari sumber yang tidak berpolusi
seperti panas bumi dan cahaya matahari. (kembali)
Apakah kita berada dalam krisis energi?
Perhatikan apa yang terjadi pada cadangan minyak dunia

selama kurun waktu 400 juta tahun?
Ya, memang benar kita dalam krisis energi yang serius!
1. 40% dari energi kita berasal dari Minyak Bumi
2. Produksi Minyak dunia sedang mencapai puncaknya,
• Yang berarti tidak ada lagi "minyak murah",
• Banyak perang diadakan untuk mengamankan sumber-sumber "murah" terakhir, berselubung "Perang melawan Teror"
3. Kita masih jauh dari meninggalkan gaya hidup burnivora yang mengakibatkan kerusakan besar lingkungan dunia
4. Lebih dari 99% penduduk dunia mengalami "kebutahurufan" energi,
5. Ini kemudian menyebabkan pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan yang salah, dan hanya memperparah krisis lebih lanjut.
Sebenarnya, krisis dunia dalam energi dan lingkungan tidak diakibatkan kekurangan sumber energi, melainkan karena memanfaatkan sumber yang salah. Dan itu sendiri diakibatkan karena kebutaan tentang energi, yang dialami oleh publik, tokoh politik dan pembuat keputusan.
(kembali) Apa yang harus dilakukan
dalam krisis?
Buatlah sebuah neraca!
Bagaimanakah para akuntan keuangan membuat sebuah neraca? Pasti dalam satu
mata uang yang sama.
Namun dalam mengerjakan akuntansi energi, bagaimana para "ahli energi" membuat
Neraca Energinya? Dalam satuan barel, meter kubik, metrik ton, kiloliter, MTOE,
Watt dan Gigawatt, Solar-Watt, Wind-Watt... dan daftarnya semakin panjang…

Membuat Neraca Energi haruslah dalam satuan yang sama. Jadi dibutuhkan suatu
unit yang universal untuk segala pengukuran energi. (kembali)
Apa itu "Peak-Oil" (Puncak
produksi minyak)?
Pada tahun 1954 Dr. M. King Hubbert, seorang ilmuwan yang bekerja pada
Shell, meramalkan bahwa di Amerika Serikat (produsen minyak bumi terbesar
di saat itu) produksi minyak akan memuncak (peaking) di tahun 1970 dan
ini akan berdampak sangat buruk terhadap ekonomi negara itu.

Dia menarik kesimpulan
penemuan ladang minyak baru setiap tahun bertambah pada kecepatan yang
semakin lamban, disaat jumlah eksplorasi dan teknologi penambangan semakin
meningkat setiap tahunnya. Jadi tidak ada penyebab lain kecuali mereka
hampir mencapai puncak kurva penemuan, yang berarti minimal separuh cadangan
minyak di bawah tanah Amerika sudah ditemukan. (Misalnya, dengan sekitar
10% peningkatan upaya dan teknologi eksplorasi tiap tahun, kita berharap
ada 10% peningkatan dalam penemuan ladang minyak baru, tapi ternyata hanya
ada peningkatan penemuan sebesar 5%).

Ramalannya ternyata akurat (hanya meleset 2 tahun). Sejak 1972, produksi minyak
Amerika Serikat terus menurun tiap tahun. Dr. Hubbert juga telah meneliti
sumberdaya minyak dunia dan menarik kesimpulan bahwa pada tahun 2007 seluruh
dunia akan sampai pada keadaan seperti Amerika Serikat di tahun 1972. Ini berarti
produksi minyak tidak bisa ditingkatkan lagi, puncak dari produksi minyak sudah
lewat, dan tiap tahun hanya akan mengalami penurunan lebih lanjut.
Para ahli masih memperdebatkan hal ini, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa
disangkal lagi:
1) Bahwa minyak bumi adalah sumberdaya yang terbatas, jadi seperti layaknya
semua sumberdaya terbatas, akan mengikuti kurva berbentuk seperti lonceng
atau bel.
2) Bahwa dunia sangat tergantung kepada sumberdaya ini untuk kehidupan sehari-hari
dan kita belum menyiapkan alternatif sebagai pengganti minyak bumi.
3) Bahwa kecepatan konsumsi meningkat setiap tahun, mengikuti meningkatnya populasi
dunia.(kembali)
Jenis
sumber energi apa saja yang kita miliki di bumi?
Energi adalah sebuah fenomena. Ia tidak punya berat atau volume maupun bau, bahkan tidak bisa dilihat. Satu-satunya cara mengetahui energi tadinya ada di sana adalah dengan mengukur perbedaan sebelum dan sesudah energi melakukan kerja.
Darimana kita tahu ada energi dalam cahaya matahari? Anda bisa bereksperimen sebagai berikut, taruhlah plat metalik warna hitam dibawah terik matahari. Anda akan temukan plat itu menjadi sangat panas setelah beberapa menit. Kenaikan suhu plat adalah bukti bahwa cahaya membawa energi dan menyerahkannya kepada plat.
Darimana kita tahu ada energi dalam kayu?
Anda bisa bakar kayu itu dan rasakan panas yang dilepaskan sebagai bukti energi tadinya terperangkap di dalam kayu tersebut.
“Cahaya membawa energi dan menyerahkannya kepada plat” dan “energi tadinya terperangkap di dalam kayu”, apakah artinya ini? Itu berarti baik cahaya maupun kayu adalah pembawa energi.
Pada dasarnya, semua unsur dapat membawa energi didalamnya. Plat yang dipanaskan terik matahari menjadi pembawa energi yang baru dan menerima energi dari matahari, disaksikan sebagai suhu yang meningkat. Ketika plat kembali kita jauhkan dari sinar matahari, disimpan di tempat sejuk, plat akan mendingin. Ia membuyarkan panas ke udara sekitar dan permukaan dimana dia diletakkan, yang menjadi pembawa berikutnya.
Mari kita tinjau kembali bagaimana energi telah berpindah-pindah. Matahari menghasilkan cahaya, jadi energinya dipindahkan kepada cahaya untuk dibawa ke bumi. Setelah tiba di bumi cahaya mengoper energi ke plat hitam yang menjadi panas, dan plat itu mentransfer lagi energinya ke lingkungan di sekitarnya.
Dari contoh ini kita bisa berkesimpulan pembawa energi seperti peserta dalam lomba estafet, dimana setiap pembawa meneruskan “tongkat energi”, atau sebagiannya, ke satu atau lebih pembawa berikutnya.
Dari fenomena “lomba estafet energi” ini kita bisa pula menyimpulkan bahwa semua energi di sekitar kita sebenarnya sebuah arus kontinyu yang dioper dari satu pembawa ke satu atau lebih lainnya, dan selalu mengikuti arah dari tinggi ke rendah. Kita menyatakan Cahaya, Kayu, Batubara, Minyak, Gas dan Plat Hitam tadi sebagai pembawa energi. Namun bagaimana dengan plat yang dingin (katakanlah pada suhu normal udara ruangan 25°C), apakah ia masih mengandung energi? Ya, bahkan plat dingin pun masih berisi energi dan ini bisa dibuktikan dengan menaruh plat itu ke dalam seember air es 0°C. Suhu plat dari 25°C akan turun. Plat mentransfer energi panas 25°C-nya kepada air, yang mengakibatkan sebagaian es akan mencair. Kalau Anda keluarkan plat dari air dan menaruhnya di suhu ruangan, plat akan perlahan menyerap energi dari lingkungan dan kembali kepada suhu ruangan 25°C. Hanya bila sebuah benda didinginkan ke minus 273°C (0 Kelvin) barulah semua energinya kosong. Tingkat energi nol absolut tidak ada pada alam di planet kita. Tiap materi memiliki suhu tertentu, dan selama di atas 0 Kelvin, masih ada energi di dalamnya.
Kayu, batubara, miyak, gas, batu dan tanah semuanya adalah materi, dan bisa memiliki suhu tertentu, jadi berisi energi. Namun kayu, batubara, minyak dan gas tidak hanya mengandung energi dalam massanya, tapi juga dalam struktur kimianya. Energi ini “terperangkap” dan kita bisa membebaskannya misalnya lewat pembakaran. Jadi kita bisa kategorikan jenis pembawa energi seperti itu sebagai pembawa energi kimia.
Kita semua tahu tanaman tumbuh berkat bantuan matahari melalui proses bernama fotosintesa. Fotosintesa adalah proses dimana cahaya menghasilkan ikatan atom dan molekul, terutama oksigen dengan karbon dioksida melalui proses listrik. Jadi kita bisa berkesimpulan bahwa listrik memang “missing link” antara pembawa energi kimia dan cahaya.
Tapi masih ada lagi tipe pembawa energi yaitu yang dibawa benda bergerak. Ini disebut energi kinetik, dan bisa kita tempatkan antara tingkatan materi panas dan dingin pada urutan pembawa energi. Kita tempatkan antara materi panas dan dingin, sebab misalnya udara panas mengembang sambil mengakibatkan molekul udara bergerak dan hanya akan berhenti bila udara telah mencapai suhu-suhu yang lebih dingin.

Total urutan pembawa energi menjadi demikian:
Hampir semua "Teknologi Energi" (Teknologi yang menghasilkan sebuah Arus Energi
dari suatu pembawa energi) yang sudah dikuasai manusia sejak 200,000 tahun silam
berurusan dengan pembakaran. Pembakaran adalah proses mengkonversi pembawa energi
kimia menjadi energi panas. Dalam Mesin Pembakaran, kita bakar pembawa energi
kimia dengan meledakkannya bersama campuran udara. Ledakannya menghasilkan kenaikan
suhu udara yang begitu cepat, membuat molekul-molekul udara bergoncang keras
(Benda Panas) sehingga tekanan meningkat tajam dan menggerakkan piston, yang
menjadi energi kinetik (Benda Bergerak). Setelah itu sisa gas keluar dari knalpot
sebagai “Benda Dingin”. Sebenarnya gas buang dari mesin pembakaran masih sangat
panas, jadi masih banyak mengandung energi. Namun kita tidak bisa memanfaatkannya
lagi karena sisa tekanan yang sudah rendah diakhir siklus pembakaran, sehingga
tidak berguna banyak selain untuk mengeluarkan gas sisa pembakaran, serta kembali
memasukkan campuran udara dan bahan bakar ke dalam ruang pembakaran.
Energi kinetik yang dipindahkan ke massa poros engkol dan roda gaya yang sedang berputar, dapat mendorong mobil bergerak maju, dan tiap ledakan baru melepaskan energi baru bagi proses itu supaya energi tetap mengalir. Seluruh energinya akan berakhir sebagai panas rendah yang diserap oleh lingkungan (Benda Dingin). Ketika Anda telah mengendarai mobil dari rumah ke kantor dan balik lagi, seluruh energi dari bahan bakar telah 100% dikonversikan menjadi panas rendah yang tersebar sepanjang perjalanan Anda. Sisa-sisa panas dipindahkan ke udara dalam garasi Anda, memanaskan udara dalam garasi, dan udara akan menghangatkan tembok garasi yang kemudian akan bocor ke udara di sekitar garasi... Tidak ada energi yang hilang, hanya berpindah ke tingkat pembawa energi yang lebih rendah. Sayangnya tiap hari tidak hanya ratusan mobil, tapi mendekati semilyar mobil yang mengubah energi kimia menjadi panas, sambil mengotori langit, ditambahkan puluhan ribu stasiun pembangkit listrik turut membakar dan mencemari, sehingga seluruh energi yang terperangkap dalam pembawa energi kimia berakhir sebagai panas dalam lingkungan kita dan gas-gas di atmosfir kita.
Setiap proses energi yang terjadi di sekitar kita mengikuti diagram tadi. Sebuah generator kincir angin mengambil energi yang tersimpan dalam udara yang bergerak (Benda Bergerak). Udara bergerak karena kenaikan tekanan udara (Benda Panas) yang dipanaskan sinar matahari di satu daerah dan kemudian mulai mengalir ke daerah yang bertekanan lebih rendah, yang lebih sedikit dipanaskan oleh matahari (Benda Dingin).
(kembali)
Berapa banyak energi tersedia untuk 100 tahun ke
depan? Untuk 100 tahun mendatang, kita mempunyai sumber energi berikut:

Total kebutuhan konsumsi energi dunia "hanya" 0,5ZJ per tahun, jadi dari angka-angka
di atas kita bisa menyimpulkan kita tidak perlu khawatir kehabisan sumber
energi. Kita hanya perlu mengkhawatirkan teknologi yang kini kita pakai untuk
pengambilan energi, yang sudah mulai usang.
Pembakaran terus menerus pembawa energi kimia (Minyak, Gas dan Batubara) dalam jumlah yang meningkat tiap
tahunnya (dewasa ini kita membakar bahan bakar fosil untuk 87% dari seluruh
pemakaian energi kita) menyebabkan langit kita begitu tercemar hingga di beberapa
kota industri di dunia kita sudah tidak bisa lagi melihat jelas cahaya matahari.
Manusia sudah begitu terobsesi dengan membakar-bakar sehingga mereka tidak
lagi menyadari bahwa minyak bumi adalah sesuatu kekayaan yang terlalu berharga
untuk dibakar. Dalam kehidupan dunia modern sekarang, sulit memikirkan produk
yang tidak lagi mengandung produk asal minyak bumi, baik dipakai langsung
atau tidak langsung dalam proses produksinya.
Kita samasekali tidak perlu khawatir kehabisan sumber energi guna menghidupi
kehidupan kita, sebab bisa dilihat di atas masih banyak sumber energi lain
yang bisa diperoleh tanpa membakar Energi Kimia!
Kita justru perlu prihatin
kehabisan bahan baku untuk membuat produk tahan lama yang kita semua sangat gemari.
Kita butuh minyak bumi untuk barang plastik dan tekstil serta jutaan barang konsumen
lainnya, serta kayu untuk membangun rumah dan perabot kita.
Alasan utama untuk berhenti membakar benda adalah karena untuk mengawetkannya
sebagai kegunaan yang tahan lama, dan sambil berbuat demikian kita juga
mengatasi masalah pemanasan global dan perubahan iklim.
Mudah saja, tugas sebenarnya
masyarakat dunia adalah mengembangkan sebuah ekonomi yang sepenuhnya berlandaskan
listrik, dan menggunakan energi kimia hanya untuk produk tahan lama. Kita
harus mulai menerapkan sistem transportasi menggunakan listrik, serta meningkatkan
pembangkitan listrik bersumber dari cahaya matahari dan panas bumi, yang
sangat berlimpah dan kita tidak akan kehabisan. Sehingga akhirnya kita bisa menghentikan
kebiasaan primitif kita serba membakar segalanya. (kembali)
Apa itu “Burnivore”?
Kalau kita mendefinisikan ulang spesies di bumi berdasarkan cara mereka mengakses sumber energi guna meningkatkan lualitas hidup mereka, sampailah kita pada beberapa spesies yang berdefinisi baru:
Tanaman:
Tanaman mengakses arus energi cahaya yang mengalir dari matahari dan melalui proses Fotosintesa ia merubah energi cahaya menjadi energi yang disimpan dalam kimia, dan guna membangun sel-selnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan mempertahankan bentuk tubuhnya.
Herbivora:Herbivora makan tanaman dan melepaskan energi kimia yang terkandung melalui proses Metabolisme lalu mengubahnya ke dalam bentuk energi kimia lainnya yang disebarnya ke seluruh sel-sel tubuh guna membangun, menumbuhkan dan mempertahankan struktur tubuhnya. Otak herbivora mengatur penggunaan energi kimia menjadi energi gerak dan panas melalui jaringan saraf yang rumit. Jaringan ini menyampaikan sinyal listrik, juga dari alat pengindera ke otak ketika harus menyampaikan kebutuhan untuk itu.
Karnivora:
Seperti Herbivora, hanya saja ia ambil jalan pintas. ia tidak makan pembawa energi yang rendah kepadatannya, seperti tanaman, melainkan daging binatang lain yang telah tumbuh dan menyimpan energi karena makan tanaman itu atau karnivora lainnya.
Omnivora:
Kombinasi Herbivora dan Karnivora, ia makan daging dan tumbuhan.
Burnivora:
Seperti Omnivora, dengan perbedaan burnivora menggunakan 10 sampai 1 juta kali lebih banyak energi daripada yang tubuhnya bisa pakai. Burnivora mengakses arus energi melalui proses pembakaran segala jenis pembawa Energi Kimia (Kayu, Batubara, Minyak, Gas) guna melepaskan Energi Panas, dan terkadang sedikit Cahaya. Panas digunakannya untuk memasak makanan agar lebih mudah dicerna, dan untuk membuat udara atau gas mengembang sehingga menciptakan energi kinetik yang menggerakkan sepeda motor, mobil, truk, kapal, pesawat terbang atau roket melaju membawa dirinya atau barang-barang yang ia kira dibutuhkan guna meningkatkan mutu hidupnya.

Catatan 1: Karena penggunaan energi terus menerus lewat pembakaran, polusi
udara menjadi masalah bagi kesehatannya di jaman revolusi industri burnivora.
Masalah ini diatasi dengan menggunakan listrik, yang memungkinkan membawa
energi dari satu tempat yang jauh dari populasi ke hunian burnivora yang
padat penduduk (polusinya terjadi tidak di tengah lingkungan hidupnya).
Catatan 2: Burnivora mempunyai umur terbatas karena tergantung pada
pembawa energi yang telah terakumulasi melalui fenomena alami selama
400 juta tahun dan kini sedang dibakar dengan kecepatan yang memberi
kelangsungan hidup sekitar 25 tahun lagi, kalau ia bisa mengembangkan
kemajuan teknologi untuk “menyedot” sisa energi di dalam kerak bumi dalam jumlah cukup dan kemudian mampu memperbaiki kerusakan lingkungan dunia akibat gaya hidup burnivoranya. Pemanfaatan listrik sebagai transportasi energi yang memungkinkan pembakaran dan pencemaran jauh dari kawasan hunian, tidak lagi efektif karena kawasan hunian dan polusi keduanya berkembang pesat sehingga timpang tindih lagi seperti di awal revolusi industri dulu, mengakibatkan masalah kesehatan dan dan penurunan mutu kehidupan. Asap dari pembakaran batubara di dalam dan sekitar kota untuk pembangkitan listrik, ditambah asap dari transportasi dalam kota telah menciptakan lapisan-lapisan tebal udara kotor dan mengakibatkan pemanasan lingkungan. Masalah penurunan mutu udara diatasi dengan AC dalam kendaraan dan rumah untuk memompa keluar udara panas dari lingkungan hidup burnivora. AC tersebut menggunakan 3J energi listrik untuk memompa 1J udara panas keluar dari ruangan. Untuk menyediakan 3J listrik, stasiun pembangkit listrik membakar 10J batubara (dijadikan panas). Jadi dibutuhkan total 10J panas untuk mengeluarkan 1J dari ruangan. Ini tentu menjadi lingkaran setan. AC harus bekerja lebih keras lagi, dalam perputaran yang semakin memburuk.
Catatan 3: Burnivora buta energi, jadi tidak menguasai akuntansi energi,
dan tidak menyadari gaya hidupnya akan berakhir. Minyak bumi yang mudah
pengambilannya sudah semakin langka beberapa tahun ini, memacu burnivora
untuk menanam tanaman khusus untuk dibakar (biofuels). Namun sebentar
lagi mereka akan lihat itu bisa mengakibatkan kekurangan pangan, dan
semakin rusaknya lingkungan karena kebutuhan yang semakin lebih besar
lagi untuk energi dan air dalam memproduksi biofuel.
Catatan 4: Masa depan burnivora sangat suram. Untungnya sistem pencernaan
mereka untuk kebutuhan energi mendasar persis sama dengan spesies baru
bernama Elektrivora. Jadi kalau tidak terhambat tradisi, burnivora bisa
mudah berubah menjadi elektrivora. Burnivora yang tidak mampu meninggalkan
kebiasaan lamanya akan kehabisan bahan bakar... dan akhirnya “kebakaran jenggot”. (kembali)
Apa itu “Electrivore”?
Elektrivora adalah spesies baru hasil evolusi dari Burnivora. Elektrivora telah menguasai akuntansi energi dan telah menyimpulkan gaya hidup lama ala burnivora tidak bisa diteruskan tanpa jadi “kebakaran jenggot”. Mereka menyadari bila mengambil energi dari tingkatan pembawa energi tertinggi, otomatis akan bisa mengembangkan kualitas hidup yang lebih tinggi.
Spesies baru ini telah menjalani gaya hidup yang sepenuhnya berdasarkan energi listrik. Ia pakai listrik untuk mendorong maju sepeda motor, mobil dan kereta, bahkan mungkin nantinya pesawat terbang, untuk transportasinya. Ia juga memasak pakai pemanas dan oven listrik. Untuk komunikasi, informasi dan hiburannya ia menggunakan berbagai peralatan listrik yang sangat efisien.

Lebih penting lagi, ia membangkit listrik melalui cara non-burnivora yaitu dari matahari dengan panel fotovoltaik atau dari panas bumi. Ia pakai pembawa energi kimia hanya sebagai penyimpanan sementara, untuk dikembalikan sebagai energi listrik misalnya untuk menggerakkan mobil atau sepeda motor. Ia akan menciptakan cara penyimpanan listrik yang semakin pintar, tapi teknologi kini sudah cukup baik dan terjangkau untuk sebuah gaya hidup Elektrivora.
Ia akan menanam kembali lahan yang disalahgunakan burnivora dalam mengembangkan biofuel, karena ia sadar bahwa kayu sebagai pembawa energi kimia bisa digunakan untuk tujuan yang lebih tahan lama daripada dibakar, dan bahwa hutan dibutuhkan untuk menyerap kadar tinggi CO2 dan menghasilkan oksigen bagi kebutuhan semua spesies di bumi.
Elektrivora mempunyai masa depan cerah bila menang lawan burnivora yang lebih banyak, dalam pemanfaatan persediaan terakhir energi kimia. Elektrivora ingin membuatnya jadi barang tahan lama, tapi burnivora ingin membakarnya, yang malah akan memblokir akses ke sumber utama energi Elektrivora: matahari.
(kembali)
Mengapa BioFuel (Bahan Bakar Nabati) memperparah krisis
energi dan krisis ekonomi?
Fakta bahwa diseluruh dunia pemerintah2 mendukung
dan menggalakkan produksi biofuel adalah tanda-tanda kebutaan energi.
Dan juga sangat menunjukan seberapa besar manusia kecanduan membakar
segala sesuatu untuk mengisi kebutuhan energinya. Orang yang sadar energi
pasti tidak akan memilih biofuel sebagai solusi masa depan karena mengetahui
bahwa biofuel itu sangat tidak efisien dan disamping itu mengakibatkan
masalah baru. Di dunia sekarang jumlah bahan bakar dari biofuel belum
mencapai 1% pun dan jumlah yang tidak terasa itu sudah mengakibatkan
lonjakan harga bahan makanan sampai 200-300% dan kekurangan pangan di
berbagai negara. Bayangkan 10% dari pengunaan bahan bakar minyak fossil
diganti dengan biofuel; harga bahan makanan akan melonjak luar biasa
besarnya dan akan terjadi kekurangan pangan. Jadi sudah sangat jelas
bahwa biofuel hanya menimbulkan masalah baru yang lebih parah lagi.
Orang
yang sadar energi akan mengetahui bahwa stok bahan bakar fosil hanya
tersisa 42 ZJ di bumi kita. Jumlah energi yang kita akan terima dari
matahari untuk 100 tahun ke depan adalah 550.000 ZJ (70 ribu kali lebih
besar!) dan tidak akan habis. Disamping itu energi panas bumi yang sebesar
10.000 ZJ tersedia untuk menghasilkan listrik. Energi Cahaya dan energi
panas bumi dua-duanya sangat berlimpahan dan tersedia teknologi untuk
mengkonversikan ke listrik tanpa menyebabkan polusi (tidak perlu pakai
proses pembakaran).
Mobil bahan bakar dapat disubstitusi dengan teknologi
mobil listrik; yang mempunyai performa lebih baik dari mobil BBM.
Apa lagi yang kita tunggu? (kembali)
Apa definisi dari Watt?
Definisi Watt adalah Joule per detik. Kalau kita bicara mengenai konsumsi,
selalu kita akan sebut per unit kesatuan lainnya. Misalnya konsumsi
beras 10 liter per bulan, atau konsumsi air 100 liter per hari.
Rasanya tidak lengkap kalau dalam menyebut konsumsi tidak membicarakan
per sesuatu.....ya,
kan? Mengapa tidak pernah ada orang yang mempertanyakan mengapa dalam
konsumsi listrik tidak ada per. Lampu konsumsi 100 Watt, kulkas
konsumsi 70W dan sebagainya.
Nah sekarang sudah terjawab; per-nya itu selama ini di sembunyikan oleh Watt!
Lampu yang mengkonsumsi 100 Watt artinya dia makan energi sebanyak 100
Joule per detik. (kembali)
Apa definisi kWh dan berapa harganya?
kWh adalah singkatan dari kilo-Watt-hour. Banyak sekali orang, termasuk
para insinyur di bidang listrik, salah artikan
kWh ini sebagai kilowatt per hour. Kalau pakar kelistrikan saja
membuat kesalahan ini, apalagi konsumen awam... sudah
pasti salah paham mengenai perhitungan listrik. Kesalah-pahaman itu terjadi
karena di satuan Watt tidak kelihatan ada per jadi kekurangan
itu "diisi" dengan
menambah per-nya di kWh menjadi kilowatt per hour.
Padahal itu adalah kesalahan besar!
Yang benar adalah sebagai berikut:
KWh = kilo x Watt x hour
Kilo = 1.000
Watt = Joule / detik
Hour = 3.600 detik

Nah, pertanyaannya sekarang, tahukah Anda berapa persisnya harga listrik PLN per kWh? (kembali)
Bagaimana konversikan Watt ke Joule?
Untuk barang elektronik yang mengunakan arus listrik yang kontinyu dan
stabil sangat gampang dikonversi ke Joule.
Konversi dapat dilakukan dengan hanya mengkalikan jumlah watt x 3.600 detik untuk
mendapatkan konsumsi energi per jam.
Lampu yang 100Watt misalnya akan mengkonsumsi 100 Joule per detik dan kalau dinyalakan
1 jam akan menghabiskan 100 x 3.600 = 360.000 = 0,36 MJ per Jam.
1 MJ listrik yang harganya misalnya Rp 200 akan cukup untuk menyalakan lampu
diatas selama 1 / 0,36 = 2,8 Jam. Jadi Anda bisa menyimpulkan sekitar
3 Jam menyala akan membutuhkan biaya Rp 200. (kembali)
Apa tujuan dari program edukasi
Kajul?
Tujuan dari program Kajul adalah terutama untuk menyadarkan masyarakat
mengenai kebutuhan utama dari kehidupan; yaitu energi. Semua orang pakai
energi dan tanpa energi tidak bisa hidup. Penyadaran mengenai energi
dan satuan energi dan hitungannya, juga termasuk pengetahuan mengenai darimana energi
berasal, adalah sangat penting untuk kelangsungan hidup jangka panjang.
Kesadaran masyarakat mengenai sumber2 yang di pakai sekarang adalah sumber
yang makin sulit didapat; akan makin mahal karena puncak produksi telah
tercapai dan akan makin sulit dijangkau oleh masyarakat luas karena mahalnya.
Kalau kesadaran itu sudah dibangun automatis partisipasi masyarakat untuk
mulai memilih alat-alat hemat energi akan terbangun. Kalau masyarakat
sudah sadar energi dan hanya membeli alat2 yang irit; industri pembuat
alat akan makin meningkatkan efisiensi dan menjadikan efisiensi sebagai
"sales feature" terutama.
Demikian akan terbentuk satu saingan sehat untuk membuat alat listrik
semakin irit energi.
Mau tidak mau; harga listrik akan naik terus karena ongkos produksi akan meningkat
terus. Dengan masyarakat yang sudah sadar energi dan memperkecil pemakaiananya;
kenaikan harga listrik tidak akan begitu terkena dampak kenaikannya
karena pemakaian makin berkurang.
Dengan harga listrik makin naik harga listrik dari matahari akan makin bisa bersaing
dan pada saat itu polusi pembakaran bahan fossil dapat makin diturunkan. (kembali)
Mengapa programnya dinamakan "Kajul"?
Kajul adalah nama popular dari karakter yang menjadi maskot untuk menyampaikan
ceritanya mengenai semua urusan energi ke masyarakat. Kajul juga merupakan
singkatan untuk unit energi Kilo-Joule yang berarti seribu Joule. Dikarenakan
nama Kajul sangat gampang di-ingat orang dengan gampang akan mengingat
unit energi yaitu Joule. Saat sekarang kebanyakan alat-alat listrik dan transportasi
berada dalam range MegaJoule; dengan kesadaran masyarakat mengenai energi
diharapkan semua peralatan mengarah ke range kiloJoule (Kajul) Misalnya mobil
teknologi bahan bakar konsumsi antara 3 s/d 10 MJ/km; teknologi mobil listrik
akan membawa alat transportasi dari range MJ turun ke range kiloJoule (Kajul)
misalnya mobil listrik membutuhkan hanya 300 s/d 500kJ per km (0,3 s/d 0,5MJ/km)
Jadi disamping nama populer dari karakter sekaligus nama Kajul menjadi target
untuk efisiensi energi. Angka-angka sekarang masih
berkisar seputar MJ namun di masa depan akan menurun ke kiloJoule.....itu adalah
misi Kajul. (kembali)
Apa kegiatan dalam program Kajul?
Program Edukasi Energi dan Kesadaran Energi Surya ini akan berdiri pada 3 "pilar":
1. Mendesain dan memperkenalkan sebuah program edukasi untuk SMA keatas, usia 15-21 tahun bekerjasama dengan ATMI (Akademi Teknik Mesin Industri).
2. Produksi dan peluncuran serial pendidikan animasi di TV nasional bekerjasama dengan Progres Animation (untuk usia pemirsa 5-99 tahun).
3. Melobi dan memotivasi Badan Standardisasi Nasional dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia utuk mengadopsi Standar Joule.
(kembali)
Bagaimana Anda dapat bantu membuat sukses program Kajul?
Kami dari team Program Kajul mempunyai misi utama untuk meningkatkan
kualitas hidup di bumi ini. Hal ini adalah misi yang sangat luas tentu;
tetapi kami telah menemukan suatu cara yang sangat terfokus untuk mencapai
tujuan tersebut.
Kualitas hidup sangat ketergantungan pada cara kita menghasilkan energi. Cara
Burnivora yang membakar segala macam bahan untuk kebutuhan energinya
adalah satu kegiatan yang mempunyai effek sangat buruk terhadap kualitas
hidup. Lingkungan dekat kita terpolusi dan membuat banyak sekali masalah
kesehatan; lingkungan global kita juga terpolusi yang mengakibatkan pemanasan
bumi dengan segala effek buruknya.
Kunci permasalahan adalah kegiatan "burnivora", dan solusinya adalah menjalani
gaya hidup "electrivora".
Yang jelas orang enggan merubah gaya hidupnya; dan
dengan gaya hidup electrivore kita tidak perlu berubah; malahan kita boleh mengunakan
energi sebanyak-banyaknya selama kita bisa membiayainya; karena pemakaian energi
dari sumber panas bumi dan cahaya matahari tidak akan mencemari lingkungan
kita.
Kontribusi Anda untuk membangun gaya hidup electrivore adalah sbb:
1) Mendidik
diri mengenai energi dengan bahan edukasi kami dan jadilah seseorang yang tidak
buta energi lagi.
2) Mendidik keluarga dan teman-teman Anda dengan pengetahuan energi
baru Anda. 3) Mulai menuntut informasi energi (daya tidak cukup!) pada saat
membelanjakan barang listrik; panggil manager toko dan tanyakan kenapa
tidak ada informasi listrik pada alat-alat yang dijual. Mintalah manager
untuk sampaikan ke management atas agar informasi energi disampaikan
secara jelas.
4) Hanya membeli alat-alat yang paling rendah konsumsi energinya.
5)
Mulai catat jumlah Energi listrik yang Anda pakai per bulan dalam MJ.
(lihat dari rekening PLN jumlah kWh lalu kalikan dengan angka 3,6)
6) Mulai hafalkan harga listrik per MJ (lihat dari rekening
PLN berapa harga 1 kWh lalu bagikan dengan angka 3,6)
7) Beli Joule-Counter dan pasangkan ke alat-alat di
rumah tangga Anda agar Anda mulai sadar berapa konsumsi energinya dari
setiap alat.
8) Hitungkan dan sadarkan diri dengan informasi mengenai
alat2 mana yang paling banyak makan energi. Dan coba hitungkan berapa
biaya energinya per tahun.
9) Ingatkan biaya energi per tahun yang dapat
dihemat dari pengantian alat yang lebih hemat energi. 10) Buatkan target
penurunan pemakaian listrik.
(kembali) |
|